Pendalaman
Bacalah tulisan Ellen G. White, "Jatuhnya Kota Yerikho," dalam Alfa dan Omega, jld. 2, hlm. 91-104.
Ketika pemberontakan terhadap otoritas Allah muncul di alam semesta, entah Allah akan berhenti menjadi diri-Nya yang adalah kekal, dan abadi, dan menyerahkan kepemimpinan atas seluruh alam semesta kepada salah satu ciptaan-Nya yang memberontak, atau Dia akan menjadi Bapa yang kudus, adil, penuh belas kasihan dan sayang atas segala sesuatu yang ada. Alkitab menyajikan gambaran yang kedua dan, dalam hal ini, benturan antara kekuatan jahat dan kuasa-Nya tidak dapat dihindari.
Ketika kekuatan politik atau sosio-historis yang terkait dengan kekuatan kos mik yang kacau dan memberontak menunjukkan sikap menantang yang sama terhadap Yahwe, Dia, sebagai Tuhan yang Berdaulat atas alam semesta, turun tangan. Motif Yahwe sebagai seorang pejuang menjadi kenyataan awal dari kemenangan akhir, yang pada akhirnya akan mengakhiri konflik kosmik yang sedang berlangsung antara yang baik dan yang jahat ( Why. 20: 8-10). Selain itu, peperangan Ilahi Israel tidak hanya mencerminkan sekilas konflik kosmik seperti dalam cermin, tetapi juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kontroversi yang sama, yang mengantisipasi penghakiman Allah di akhir zaman dalam lingkup sejarah saat ini.
"Allah telah menjadikannya sebagai satu kesempatan dan satu tugas bagi mereka untuk memasuki negeri itu pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, tetapi melalui kelalaian mereka yang disengaja maka izin itu telah ditarik kembali. … Bukanlah maksud-Nya agar mereka itu memperoleh negeri itu melalui peperangan, melainkan oleh penurutan yang saksama atas perintah-perintah-Nya" Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. I, him. 392.
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi: