Opsi Terbaik Kedua
Pertama kali Israel berperang setelah Eksodus dicatat dalam Keluaran 17, dimana orang Israel mempertahankan diri melawan orang Amalek. Bangsa Israel telah menyaksikan kemahakuasaan Allah dalam menghukum bangsa Mesir dan menuntun bangsa Israel menuju kebebasan. Kita telah melihat bahwa rencana awal Allah bagi bangsa Israel tidak mencakup peperangan melawan bangsa lain ( Kel. 23: 28, Kel. 33: 2). Namun tak lama setelah pembebasan mereka dari Mesir, bangsa Israel mulai bersungut-sungut dalam perjalanan ( Kel. 17: 3), bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. Pada saat itulah orang Amalek datang untuk berperang melawan orang Israel. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan. Tuhan mengizinkan orang Amalek untuk menyerang : Israel agar mereka dapat belajar untuk percaya kepada-Nya lagi.
Tanpa mengorbankan prinsip-prinsip-Nya, Tuhan turun ke tingkat di mana umat-Nya berada, terus memanggil mereka kembali ke rencana yang ideal: ke percayaan yang penuh dan tanpa syarat pada campur tangan Ilahi. Faktanya, hukum peperangan ( Ul. 20) baru diberikan setelah 40 tahun pengalaman di padang gurun, yang juga disebabkan oleh ketidakpercayaan bangsa Israel. Keadaan yang baru menuntut strategi yang baru, dan pada saat itulah Tuhan mengharuskan Israel untuk memusnahkan bangsa Kanaan secara total ( Ul. 20: 16-18).
Selain kenyataan bahwa perang menjadi suatu keharusan bagi bangsa Israel, perang juga menjadi ujian bagi kesetiaan mereka kepada Yahwe. Tuhan tidak menyerah kepada mereka, tetapi mengizinkan mereka untuk menyaksikan kuasa-Nya dengan mengalami ketergantungan total kepada-Nya.
Partisipasi bangsa Israel dalam penaklukan ini terlibat jelas dari kesimpulan yang diambil oleh Yosua di akhir kitab ini. Di sini, orang Kanaan dikatakan telah berperang melawan orang Israel ( Yos. 24: 11). Meskipun runtuhnya tembok Yerikho merupakan hasil dari mukjizat Ilahi, namun bangsa Israel barus secara aktif terlibat dalam pertempuran dan menghadapi perlawanan keras kepala dari penduduk kota tersebut.
Partisipasi Israel dalam konflik bersenjata menjadi cara untuk mengembangkan kepercayaan tanpa syarat pada pertolongan Yahwe. Namun, Israel selalu diingatkan ( Yos. 7: 12, 13; Yos. 10: 8) bahwa hasil dari setiap pertempuran pada akhirnya berada di tangan Tuhan, dan satu-satunya cara mereka dapat memengaruhi hasil dari konflik militer adalah melalui sikap iman atau ketidakpercayaan mereka terhadap janji-janji Tuhan. Pilihan ada di tangan mereka sendiri.