Panglima Bala Tentara Tuhan
Israel baru saja menyeberangi Sungai Yordan dan menginjakkan kaki di tanah musuh. Benteng Yerikho terbentang di depan mereka, pintu-pintu ger bangnya tertutup rapat ( Yos. 6: 1). Pada titik ini, bangsa Israel tidak mengetahui strategi perang apa pun. Yang lebih memprihatinkan lagi, bangsa Israel hanya memiliki umban, tombak, dan panah untuk menghadapi kota yang dibentengi untuk bertahan dalam pengepungan yang Jama.
Pertanyaan Yosua mengenai identitas pendatang asing itu mendapat jawaban yang agak kurang jelas: "Tidak." Jawaban pendatang itu mengungkapkan bahwa Dia tidak mau masuk ke dalam kategori yang ditentukan oleh Yosua. Dengan kata lain, pertanyaan utamanya bukanlah apakah Dia ada di pihak Yosua, melainkan apakah Yosua ada di pihak-Nya?
Meskipun ungkapan "Panglima bala tentara TUHAN" adalah unik dalam AJkitab Ibrani, kombinasi istilah "panglima" dan "bala tentara" selaJu mengacu pada pemimpin militer. Kata "bala tentara" dalam Alkitab dapat merujuk pada pasukan militer, para malaikat, atau makhluk angkasa.
Kristus yang telah berinkarnasi menampakkan diri kepada Yosua bukan hanya sebagai sekutu, atau bahkan sebagai Panglima bala tentara Israel yang sebenarnya, tetapi sebagai Panglima bala tentara malaikat yang tidak terlihat namun nyata yang terlibat dalam konflik yang jauh lebih besar daripada konflik Yosua dengan orang Kanaan. Jawaban Yosua dengan jelas menunjukkan pema hamannya tentang identitas Sang Panglima. Dia setara dengan Tuhan, dan Yosua bersujud di hadapan-Nya sebagai tanda penghormatan dan penyembahan yang mendalam ( Yos. 5: 14, Kej. 17: 3, 2 Sam. 9: 6, 2 Taw. 20: 18). Yosua siap untuk menerima strategi pertempuran untuk kampanye militer yang merupakan bagian intrinsik dari konflik yang jauh lebih besar di mana Allah semesta alam sendiri terlibat di dalamnya.