Perang di Surga
Allah mengisi alam semesta dengan makhluk-makhluk yang bertanggung jawab yang Dia berikan kehendak bebas, sebuah prasyarat agar mereka dapat mengasihi. Mereka dapat memilih untuk bertindak sesuai dengan, atau melawan, kehendak Allah. Salah satu malaikat yang paling kuat, Lusifer, memberontak melawan Allah, dan membawa banyak malaikat bersamanya.
Yesaya dan Yehezkiel merujuk kepada konflik tersebut, meskipun beberapa komentator mencoba untuk membatasi makna Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 pada raja Babel dan penguasa di Tirus. Namun, ada indikator-indikator yang jelas dalam teks Alkitab yang menunjuk pada realitas transenden. Raja Babel digam barkan berada di surga di takhta Allah ( Yes. 14: 12, 13), dan raja Tirus dikatakan berada di Eden sebagai kerub pelindung di gunung suci Allah ( Yeh. 28: 12-15). Tak satu pun dari hal ini yang benar tentang raja-raja Babel dan Tirus.
Juga tidak dapat dikatakan tentang raja-raja duniawi bahwa mereka tidak bercela dan "cincin meterai kesempumaan". Oleh karena itu, karakter-karakter ini melampaui kerajaan Babel dan Tirus secara harfiah.
Yesaya menyajikan sebuah "perumpamaan" (Ibr. mashal), yang menyampai kan makna di luar konteks historisnya. Dalam hal ini, raja Babel menjadi sebuah paradigma tentang pemberontakan, kemandirian, dan kesombongan. Demikian pula, Yehezkiel membuat perbedaan antara pangeran Tirus ( Yeh. 28: 2) dan raja Tirus ( Yeh. 28: 11, 12), di mana sang pangeran, yang aktif di alam duniawi, menjadi lambang seorang raja yang bertindak di alam surgawi.
Menurut Daniel 1O: 12-14, makhluk-makhluk surgawi yang memberontak ini menghalangi penggenapan tujuan-tujuan Allah di bumi. Dalam terang hu bungan antara surga dan bumi inilah kita harus memahami peperangan Israel yang direstui oleh Allah. Kita harus mengenalinya sebagai manifestasi duniawi dari konflik besar antara Allah dan Iblis, dan antara yang baik dan yang jahat semuanya pada akhimya bertujuan untuk memulihkan keadilan dan kasih Allah di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.