Tuhan Adalah Pahlawan
Selama masa tinggal mereka yang panjang di Mesir, bangsa Israel telah lupa Tuhan yang benar dari nenek moyang mereka. Seperti yang ditunjukkan oleh banyak episode perjalanan mereka melalui padang gurun, pengetahuan mereka tentang Allah Abraham, Ishak, dan Yakub memudar, dan mereka telah mencam purkan elemen-elemen penyembahan berhala ke dalam praktik-praktik keaga maan mereka (bandingkan dengan Kel. 32: 1-4). Di bawah penindasan bangsa Mesir, mereka bersem kepada Tuhan ( Kel. 2: 23-25), dan pada saat yang tepat, Tuhan turun tangan atas nama mereka.
Namun, konflik yang digambarkan dalam 12 pasal pertama Keluaran lebih besar daripada perebutan kekuasaan antara Musa dan Firaun. Menurut ideologi perang Timur Dekat kuno, konflik antar bangsa pada akhimya dianggap seba gai konflik antara sesembahan masing-masing. Keluaran 12: 12 menyatakan bahwa Tuhan menjatuhkan penghakiman, tidak hanya kepada firaun, tetapi juga kepada dewa-dewa Mesir, yaitu setari-setan yang berkuasa ( Im. 17: 7, Ul. 32: 17) yang berada di balik kekuasaan yang menindas dan sistem sosial yang tidak adil di Mesir.
Pada akhimya, Allah berperang melawan dosa dan tidak akan membiarkan konflik ini selamanya ( Mzm. 24: 8, Why. 19: 11, Why. 20: 1-4, 14). Semua malaikat yang jatuh, dan juga manusia yang identifikasi diri mereka terbabit dengan dosa, akan dihancurkan. Dalam terang ini, peperangan melawan pendu duk bumi hams dilihat sebagai tahap awal dari konflik ini, yang akan mencapai puncaknya di kayu salib, dan penyempumaannya pada penghakiman terakhir. ketika keadilan dan karakter kasih Allah akan dinyatakan.
Konsep kehancuran total bangsa Kanaan harus dipahami berdasarkan pandangan dunia Alkitab, di mana Allah terlibat dalam konflik kosmik dengan para pelaku kejahatan di alam semesta. Yang dipertaruhkan pada akhimya adalah reputasi Allah dan karakter-Nya ( Rm. 3: 4, Why. 15: 3).
Karena dosa telah masuk ke dalam kehidupan manusia, tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di tempat yang netral. Seseorang pasti berada di pihak Tuhan atau di pihak si jahat. Oleh karena itu, dengan latar belakang ini, pemusnahan bangsa Kanaan harus dilihat sebagai sebuah tahap awal dari penghakiman terakhir.