Pendalaman:Bacalah Ellen G. White, "Allah Beserta Kita" dalam buku Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 21 - 34.
"Rencana penebusan kita bukanlah suatu buah pikiran yang lahir belakangan, suatu rencana yang dirumuskan sesudah Adam berdosa. Rencana tersebut adalah wahyu yang 'sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya.' Rm. 16: 25. Itu uraian asas-asas yang telah menjadi dasar singgasana Allah sejak zaman kekekalan. Sejak mula pertama, Allah dan Kristus sudah mengetahui kemurtadan Iblis, dan kejatuhan manusia oleh kuasa tipu daya pendurhaka itu. Allah tidak merencanakan supaya dosa ada, akan tetapi melihatnya lebih dahulu jauh sebelum dosa itu lahir, lalu mengadakan persiapan guna menghadapi peristiwa yang mengerikan itu. Sungguh besar kasih-Nya bagi dunia ini sehingga dijanjikan-Nya memberikan Anak-Nya yang tunggal, 'supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.' Yoh. 3: 16"--Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 16.
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi:
Pertanyaan Diskusi:
1. Jika Allah tidak selalu mendapatkan apa yang Dia inginkan, bagaimanakah fakta ini berdampak pada cara berpikir Anda tentang apa yang terjadi di dunia ini? Apakah implikasi praktis dari pemahaman bahwa Allah mempunyai keinginan yang tidak terpenuhi?
Pertanyaan Diskusi:
2. Jika kita kembali ke analogi kue dalam pelajaran hari Kamis, kita dapat memahami mengapa, meskipun "Allah dan Kristus mengetahui kemurtadan Iblis," mereka tetap saja menciptakan kita. Kasih harus ada di sana, dan kasih berarti kebebasan. Daripada tidak menciptakan kita sebagai makhluk yang bisa mengasihi, Allah menciptakan kita agar kita bisa mengasihi, tetapi Dia melakukannya dengan mengetahui bahwa, pada akhirnya, hal itu akan rnembawa Yesus ke kayu salib. Apakah yang seharusnya disampaikan ayat ini kepada kita tentang betapa sakralnya, betapa fundamentalnya kasih terhadap pemerintahan Allah sehingga Kristus rela menderita di kayu salib daripada meniadakan kebebasan yang melekat dalam kasih untuk kita?
Pertanyaan Diskusi:
3. Seringkali kita meratapi kejahatan dan penderitaan di dunia ini, namun seberapa seringkah Anda meluangkan waktu untuk merenungkan bahwa Allah sendiri meratap dan berduka atas penderitaan dan kejahatan? Apakah bedanya pemahaman Anda tentang kejahatan dan penderitaan ketika Anda menyadari bahwa Allah sendiri menderita karena kejahatan?
Pertanyaan Diskusi:
4. Bagaimanakah kebenaran ini-bahwa banyak hal terjadi di dunia ini yang Allah tidak kehendaki-membantu Anda mengatasi penderitaan Anda sendiri, terutama jika hal itu tidak masuk akal dan tampaknya tidak membawa kebaikan sama sekali?