Mengasihi Allah
Bahwa Allah itu mahakuasa tidaklah berarti bahwa Dia dapat melakukan hal-hal yang secara logika mustahil. Oleh karena itu, Allah tidak dapat secara kausal menentukan agar seseorang dengan bebas mengasihi-Nya. Jika melakukan sesuatu secara bebas berarti melakukan sesuatu tanpa adanya pemaksaan untuk melakukannya, maka secara definisi tidak mungkin memaksa seseorang agar dengan bebas melakukan sesuatu. Singkatnya, seperti yang telah kita lihat, dan harus ditekankan kembali- Allah tidak dapat memaksa siapa pun untuk mengasihi-Nya, karena ketika hal itu dipaksakan, maka hal itu bukan lagi kasih.
Perintah terbesar, untuk mengasihi Allah, memberikan bukti bahwa Allah memang ingin semua orang mengasihi Dia. Namun, tidak semua orang mengasihi Allah. Kalau begitu, mengapa Allah tidak langsung saja membuat semua orang mengasihi Dia? Sekali lagi, itu karena kasih, agar menjadi kasih, maka harus diberikan secara cuma-cuma.
Menurut Bilangan 23: 19, "Allah bukanlah manusia, sehingga dia berdusta." Allah tidak pernah berdusta ( Tit. 1: 2); Allah selalu menepati janji-Nya dan tidak pernah mengingkari janji-Nya ( Ibr. 6: 17, 18). Oleh karena itu, jika Allah telah berjanji atau berkomitmen pada sesuatu, maka tindakan-Nya di masa depan secara moral dibatasi oleh janji tersebut.
Artinya, sejauh Allah memberikan kebebasan kepada makhluk ciptaan untuk memilih yang berbeda dengan apa yang Allah inginkan, maka pilihan manusia itu bukan terserah pada Allah. Jika Allah telah berkomitmen untuk memberikan kebebasan memilih kepada makhluk ciptaan, maka manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan kebebasan mereka dengan cara yang bertentangan dengan keinginan Allah yang ideal. Tragisnya, banyak orang menggunakan kebebasan mereka dengan cara ini, dan oleh karena itu, ada banyak hal yang terjadi di luar kehendak Allah, namun hal tersebut sesungguhnya bukannya terserah Allah.