Kehendak Allah yang Ideal dan Memperbaiki
Istilah Yunani yang diterjemahkan "takdir" di sini dan di tempat lain dalam Kitab Suci (prohorizo) tidak mengajarkan bahwa Allah menentukan sejarah secara kausal. Sebaliknya, istilah Yunaninya berarti "memutuskan terlebih dahulu."
Tentu saja, seseorang dapat memutuskan sesuatu terlebih dahulu secara sepihak, atau seseorang dapat memutuskan sesuatu terlebih dahulu dengan mempertimbangkan kebebasan memutuskan dari orang lain. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah melakukan yang terakhir.
Di sini dan di tempat lain (misalnya, Rm. 8: 29, 30), istilah yang diterjemahkan "ditakdirkan" merujuk pada rencana Allah di masa depan setelah mempertimbangkan apa yang Allah ketahui sebelumnya mengenai keputusan bebas yang dibuat oleh makhluk hidup. Oleh karena itu, Allah dapat dengan penuh kasih membimbing sejarah menuju tujuan baik yang Dia inginkan bagi semua orang, bahkan dengan tetap menghormati kebebasan makhluk yang diperlukan untuk sebuah hubungan kasih yang sejati.
Efesus 1: 11 menyatakan bahwa Allah, "yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya." Apakah ini berarti Allah menentukan segala sesuatu terjadi sesuai kehendak-Nya? Jika dibaca secara terpisah, Efesus 1: 9- 11 sepertinya menegaskan pandangan ini. Namun, penafsiran ini bertentangan dengan banyak ayat yang kita lihat sebelumnya yang menunjukkan bahwa manusia terkadang menolak "kehendak Allah" ( Luk. 7: 30; bandingkan dengan Luk. 13: 34; Mzm. 81: 12- 15). Jika Kitab Suci tidak bertentangan, bagaimanakah ayat-ayat ini dapat dipahami secara konsisten satu sama lain?
Ayat ini sangat masuk aka! jika kita bisa mengenali perbedaan antara apa yang kita sebut sebagai "kehendak Allah yang ideal" dan "kehendak Allah yang memperbaiki." "Kehendak Allah yang ideal" adalah apa yang sebenarnya diinginkan Allah untuk terjadi dan yang akan terjadi jika setiap orang selalu melakukan apa yang Allah inginkan. Sebaliknya, "kehendak Allah yang memperbaiki" adalah kehendak Allah yang telah mempertimbangkan semua faktor, termasuk kebebasan memutuskan dari makhluk ciptaan, yang kadang-kadang menyimpang dari kehendak Allah. Efesus 1: 11 tampaknya merujuk pada "kehendak Allah yang memperbaiki."