Allah Tidak Menindas dengan Kemauan Sendiri.
Di seluruh Kitab Suci, Allah berulang kali menunjukkan kegeraman-Nya demi kepentingan orang-orang yang tertekan dan tertindas serta kemarahan-Nya yang benar terhadap para korban dan penindas. Jika tidak ada kejahatan, Allah tidak akan marah. Kemarahannya senantiasa hanya terhadap apa yang merugikan ciptaan-Nya.
Menurut Ratapan 3: 32, 33, Allah tidak menindas atas kemauan sendiri (secara harfiah, Allah tidak menindas "dari hati-Nya"). Dia tidak ingin menghukum para pelaku kejahatan, namun kasih pada akhirnya membutuhkan keadilan.
Kebenaran ini terlihat dari berapa lama Allah terus mengampuni umat-Nya dan berulang kali memberikan mereka kesempatan untuk bertobat dan berdamai dengan-Nya. Berulang kali, melalui para nabi, Allah berseru kepada umat-Nya, namun mereka menolak untuk mendengarkan (lihat Yer. 35: 14- 17; Mzm. 81:12- 15).
Menurut Ezra 5, setelah bangsa itu terus-menerus dan tidak berhenti membuat Allah marah, Dia akhirnya menarik diri dan "menyerahkan" bangsa itu "ke dalam tangan Nebukadnezar, Raja negeri Babel" ( Ezr. 5: 12). Namun Allah melakukan hal ini hanya setelah "tidak mungkin lagi ada pemulihan" ( 2 Taw. 36: 16), dan Allah kemudian menghakimi Babel atas kehancuran besar yang menimpa Yehuda ( Yer. 51: 24, 25, 44; bandingkan dengan Zak. 1: 15).
Banyak penghakiman lain yang Kitab Suci gambarkan berasal dari Allah dijelaskan seperti misalnya Allah "menyerahkan" orang-orang kepada musuh mereka ( Hak. 2: 13, 14; Mzm. 106: 41, 42), sesuai dengan keputusan manusia untuk meninggalkan Allah dan beribadah kepada "allah" bangsa-bangsa lain ( Hak. 10: 6-16; Ul. 29: 24- 26). Kemarahan Allah terhadap kejahatan, yang pada akhirnya akan mencapai puncaknya pada penghapusan segala kejahatan untuk selama-lamanya, berasal dari kasih-Nya kepada semua orang dan dari keinginan-Nya untuk kebaikan akhir alam semesta, yang juga mempunyai andil dalam seluruh pertanyaan tentang dosa serta pemberontakan dan kejahatan.