Tuhan adalah Gembalaku. Mazmur 23:1

Search Now!
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
2025-01 Pelajaran 5 25 Jan 2025 - 31 Jan 2025

Murka dari Kasih Ilahi

Ayat Hafalan

"**:** "Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya" (Mazmur 78: 38)."

Bacaan Pekan Ini: Mzm. 78; Yunus 4:1- 4; Mat. 10: 8; Mat. 21: 12, 13; Yer. 51: 24, 25; Rm. 12: 17- 21.

Rabu (Hari #5) 29 January 2025

Allah Tidak Menindas dengan Kemauan Sendiri.

Di seluruh Kitab Suci, Allah berulang kali menunjukkan kegeraman-Nya demi kepentingan orang-orang yang tertekan dan tertindas serta kemarahan-Nya yang benar terhadap para korban dan penindas. Jika tidak ada kejahatan, Allah tidak akan marah. Kemarahannya senantiasa hanya terhadap apa yang merugikan ciptaan-Nya.

Menurut Ratapan 3: 32, 33, Allah tidak menindas atas kemauan sendiri (secara harfiah, Allah tidak menindas "dari hati-Nya"). Dia tidak ingin menghukum para pelaku kejahatan, namun kasih pada akhirnya membutuhkan keadilan.

Kebenaran ini terlihat dari berapa lama Allah terus mengampuni umat-Nya dan berulang kali memberikan mereka kesempatan untuk bertobat dan berdamai dengan-Nya. Berulang kali, melalui para nabi, Allah berseru kepada umat-Nya, namun mereka menolak untuk mendengarkan (lihat Yer. 35: 14- 17; Mzm. 81:12- 15).

Pertanyaan Diskusi:
Bacalah Ezra 5: 12 dan bandingkan dengan Yeremia 51: 24, 25, 44. Apakah yang dijelaskan di sini mengenai penghakiman yang menimpa Yerusalem melalui bangsa Babilonia? (Lihat juga 2 Taw. 36: 16)

Menurut Ezra 5, setelah bangsa itu terus-menerus dan tidak berhenti membuat Allah marah, Dia akhirnya menarik diri dan "menyerahkan" bangsa itu "ke dalam tangan Nebukadnezar, Raja negeri Babel" ( Ezr. 5: 12). Namun Allah melakukan hal ini hanya setelah "tidak mungkin lagi ada pemulihan" ( 2 Taw. 36: 16), dan Allah kemudian menghakimi Babel atas kehancuran besar yang menimpa Yehuda ( Yer. 51: 24, 25, 44; bandingkan dengan Zak. 1: 15).

Banyak penghakiman lain yang Kitab Suci gambarkan berasal dari Allah dijelaskan seperti misalnya Allah "menyerahkan" orang-orang kepada musuh mereka ( Hak. 2: 13, 14; Mzm. 106: 41, 42), sesuai dengan keputusan manusia untuk meninggalkan Allah dan beribadah kepada "allah" bangsa-bangsa lain ( Hak. 10: 6-16; Ul. 29: 24- 26). Kemarahan Allah terhadap kejahatan, yang pada akhirnya akan mencapai puncaknya pada penghapusan segala kejahatan untuk selama-lamanya, berasal dari kasih-Nya kepada semua orang dan dari keinginan-Nya untuk kebaikan akhir alam semesta, yang juga mempunyai andil dalam seluruh pertanyaan tentang dosa serta pemberontakan dan kejahatan.

Pertanyaan Diskusi:
Bagaimanakah fakta bahwa Allah tidak ingin menjatuhkan hukuman terhadap siapa pun memengaruhi pemahaman Anda tentang kemarahan dan murka Ilahi? Kalau Allah lambat marah, bukankah kita harus lebih sabar dan panjang sabar terhadap orang-orang di sekitar kita? Bagaimanakah kita bisa melakukan bal ini sembari melindungi dan peduli pada para korban perbuatan salah?