Berduka karena Kejahatan.
Allah dalam Kitab Suci menyukai keadilan dan membenci kejahatan. Oleh karena itu, dosa dan kejahatan memancing kegeraman-Nya, yaitu kegeraman yang ditunjukkan demi kepentingan orang-orang yang tertindas dan teraniaya, dan bahkan dalam kasus-kasus ketika kejahatan seseorang terutama berdampak pada dirinya sendiri. Allah membenci kejahatan karena kejahatan selalu menyakiti makhluk ciptaan-Nya, meskipun kejahatan itu dilakukan sendiri. Dalam narasi Kitab Suci, Allah berulang kali terpancing untuk marah melalui apa yang disebut oleh para ahli Kitab Suci sebagai siklus pemberontakan. Siklus ini berlangsung sebagai berikut:
Manusia memberontak melawan Allah dan melakukan kejahatan, bahkan terkadang kekejaman yang sangat mengerikan, seperti mengorbankan anak dan kekejian lainnya di mata-Nya.
· Allah menarik diri sesuai dengan keputusan manusia. · Rakyat ditindas oleh negara-negara asing. · Orang-orang berseru kepada Allah meminta pembebasan. · Allah dengan murah hati menyelamatkan orang-orang tersebut. · Manusia kembali memberontak melawan Allah, seringkali lebih parah dari sebelumnya.
Namun demikian, dalam menghadapi siklus kejahatan dan ketidaksetiaan yang mengerikan ini, Allah berulang kali menghadapi ketidaksetiaan manusia, dengan kesetiaan yang tidak berkesudahan, kesabaran yang luar biasa, kasih karunia yang mengagumkan, dan kasih sayang yang mendalam.
Menurut Kitab Suci, kasih dan keadilan saling terkait. Kemarahan Ilahi adalah respons kasih yang tepat terhadap kejahatan karena kejahatan selalu menyakiti orang yang dikasihi Allah. Tidak ada contoh dalam Kitab Suci di mana Allah murka atau marah secara sewenang-wenang atau tidak adil.
Dan meskipun umat Allah berulang kali meninggalkan dan mengkhianati-Nya, selama berabad-abad Allah terus dengan sabar melimpahkan kasih melebihi segala harapan yang masuk akal ( Neh. 9: 7- 33), sehingga menunjukkan kedalaman kasih sayang dan kemurahan yang tak terbayangkan. Memang benar, menurut Mazmur 78: 38, Allah "bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya."