Tuhan adalah Gembalaku. Mazmur 23:1

Search Now!
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
2025-01 Pelajaran 5 25 Jan 2025 - 31 Jan 2025

Murka dari Kasih Ilahi

Ayat Hafalan

"**:** "Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya" (Mazmur 78: 38)."

Bacaan Pekan Ini: Mzm. 78; Yunus 4:1- 4; Mat. 10: 8; Mat. 21: 12, 13; Yer. 51: 24, 25; Rm. 12: 17- 21.

Selasa (Hari #4) 28 January 2025

Kemarahan yang Benar.

Meskipun ada banyak bentuk kemarahan yang tidak pantas, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa ada "kemarahan yang benar." Bayangkan seorang ibu memperhatikan putrinya yang berusia tiga tahun bermain di taman, lalu tiba-tiba, seorang pria menyerang putrinya. Bukankah seharusnya dia marah? Tentu saja. Kemarahan adalah respons kasih yang tepat dalam keadaan seperti itu. Contoh ini membantu kita memahami "kemarahan yang benar" dari Allah.

Pertanyaan Diskusi:
Bacalah Matius 21: 12, 13 dan Yohanes 2: 14, 15. Apakah yang kita pelajari dari reaksi Yesus terhadap cara penggunaan Bait Suci, tentang Allah menjadi marah terhadap kejahatan?

Dalam contoh ini, Yesus menunjukkan "kegeraman yang saleh" berupa kemarahan yang benar terhadap orang-orang yang memperlakukan Bait Allah sebagai sesuatu yang biasa dan yang mengubahnya menjadi "sarang penyamun" untuk mengambil keuntungan dari para janda, anak yatim, dan orang miskin ( Mat. 21: 13; bandingkan dengan Yoh. 2: 16). Bait Suci dan upacara-upacara yang seharusnya melambangkan pengampunan Allah yang penuh anugerah dan penyucian-Nya terhadap orang-orang berdosa, malah digunakan untuk menipu dan menindas kelompok yang paling rentan. Bukankah Yesus seharusnya marah terhadap kekejian ini?

Markus 10: 13, 14 dan Markus 3: 4, 5 memberikan lebih banyak contoh kemarahan-Nya yang benar. Ketika orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus dan "murid-murid memarahi mereka", Yesus "sangat tidak senang"--secara harfiah berarti "marah." Dia berkata kepada mereka, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku" ( Mrk. 10: 13, 14).

Di tempat lain, ketika orang-orang Farisi menunggu untuk menuduh Yesus melanggar hari Sabat dengan melakukan penyembuhan pada hari Sabat, Yesus bertanya kepada mereka, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membunuh orang?" ( Mrk. 3: 4). Dia "berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka" dan kemudian menyembuhkan orang tersebut ( Mrk. 3: 5). Kemarahan Kristus di sini diasosiasikan dengan kesedihan atas kekerasan mereka; itu adalah kemarahan yang benar karena kasih, sama seperti kemarahan yang dikaitkan dengan Allah dalam Perjanjian Lama adalah kemarahan yang benar karena kasih. Bagaimanakah mungkin kasih tidak jengkel oleh kejahatan, apalagi ketika kejahatan menyakiti objek kasih itu?

Pertanyaan Diskusi:
Bagaimanakah kita dapat berhati-hati untuk tidak berusaha membenarkan kemarahan yang mementingkan diri sebagai "kemarahan yang benar"? Mengapa hal itu begitu mudah dilakukan, dan bagaimana kita dapat melindungi diri kita dari jebakan yang tidak kentara namun nyata tersebut?