Nubuat yang Tergenapi
Orang sering menganggap nabi sebagai seseorang yang meramalkan masa depan, tetapi ini hanyalah salah satu aspek dari pekerjaan seorang nabi. Pekerjaan seorang nabi mencakup lebih banyak hal. Para nabi memimpin orang kembali kepada Firman Allah dan memberikan nasihat, peringatan, dan dorongan.
Prediksi yang tergenapi adalah cara lain untuk menguji seorang nabi. Prediksi nabi yang benar harus terjadi seperti yang dinubuatkan: "Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya" ( Ul. 18: 22).
Ujian ini bisa menantang untuk diterapkan karena beberapa nubuatan bersifat bersyarat; artinya, nubuat itu mungkin tidak terjadi seperti yang diprediksi oleh nabi jika persyaratannya tidak terpenuhi.
Kita melihat prinsip ini dengan Yunus dan peringatannya terhadap Niniwe. Khotbah Yunus tampak cukup singkat dan tajam: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan" ( Yun. 3: 4). Namun, hal itu tidak terjadi seperti yang diprediksinya. Mengapa?
Nubuat bersyarat adalah nubuat yang bergantung pada bagaimanakah orang menanggapi berbagai pekabaran Allah. Jika orang-orang mengubah sikap dan perilaku mereka, peristiwa yang diprediksi mungkin tidak terjadi. Orang-orang Niniwe memperhatikan prediksi Yunus dan mengubah jalan hidup mereka, sehingga Allah tidak membinasakan mereka ( Yun. 3: 10). Ketika generasi selanjutnya melupakan peringatan nubuat ini, dan Niniwe kembali menjadi tempat yang jahat dan kejam, Allah membinasakannya.
Allah mengetahui masa depan, tetapi kita tidak. Pilihan-pilihan kita sangat menentukan realitas masa depan kita.