Harmoni dengan Alkitab
Meskipun kita manusia sering bertentangan dengan diri kita sendiri dan menipu, Allah tidak berdusta (lihat Bil. 23: 19). Berbagai pekabaran nubuatan yang Ia berikan melalui para nabi juga akan mengungkapkan konsistensi ini. Kebenaran-Nya yang tidak berubah akan terlihat dalam berbagai pekabaran nubuatan yang Ia berikan.
Alkitab selalu menjadi standar akhir dari setiap klaim inspirasi. Para nabi harus diuji dengan membandingkan apa yang mereka katakan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Seorang nabi yang benar tidak akan pernah menentang, meminimalkan, atau mengalihkan perhatian dari kebenaran alkitabiah. Itulah sebabnya pengetahuan tentang Kitab Suci sangat penting bagi mereka yang ingin mengikut Tuhan dan tidak disesatkan oleh guru-guru palsu atau nabi-nabi palsu.
Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, nabi-nabi yang datang kemudian sering menyoroti dan menunjuk kembali ke tulisan-tulisan nubuatan sebelumnya sebagai standar bagi pelayanan kenabian mereka sendiri. Nabi-nabi Alkitab selanjutnya mengungkapkan wawasan tambahan tentang rencana Allah dan jalan keselamatan, tetapi mereka tidak pernah bertentangan dengan prinsip-prinsip dan konsep dasar yang sudah diberikan oleh Allah.
Dasar Perjanjian Lama untuk memahami rencana keselamatan ditetapkan dalam nubuat pertama yang diberikan Allah sendiri, dalam Kejadian 3: 15. Sistem pengorbanan meneladankan rencana ini, tetapi perincian tentang bagaimanakah Anak Domba Allah, Yesus Kristus, akan datang, hidup, dan mati bagi umat manusia diperjelas selangkah demi selangkah dalam nubuatan selanjutnya.
Catatan alkitabiah menunjukkan bahwa Allah menyingkapkan kebenaran ketika umat-Nya mampu memahaminya. Ini memungkinkan pemahaman tentang kebenaran semakin dalam pada setiap generasi baru. Inilah yang dimaksud dengan gagasan "kebenaran yang tersingkap" atau "kebenaran progresif". Artinya, generasi kemudian sering kali akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang kebenaran Allah daripada generasi sebelumnya.
Namun, ada poin penting yang tidak boleh diabaikan: wahyu kebenaran yang baru tidak akan pernah bertentangan dengan kebenaran yang telah diberikan Allah sebelumnya.