Nabi-Nabi Palsu dalam Perjanjian Baru
Yesus sendiri tidak bisa lebih jelas lagi: "Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga" ( Mat. 24: 24).
Penyesatan yang Ia peringatkan pastilah cukup persuasif, jika memang, "tanda-tanda yang dahsyat dan mukjizat-mukjizat" akan menjadi bagian darinya. Peristiwa supranatural, dalam dan dari dirinya sendiri, bukanlah bukti pekerjaan Allah, betapapun persuasifnya hal itu terlihat. Kita memiliki musuh supranatural.
Seperti yang telah diperingatkan Paulus kepada kita: "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara" ( Ef. 6: 12). Dan kuasa-kuasa ini bekerja melalui nabi-nabi palsu.
Faktanya, nabi-nabi palsu bukanlah hal baru. Perjanjian Baru merujuk pada nabi-nabi palsu di zaman Perjanjian Lama ( Luk. 6: 26). Dalam Perjanjian Baru nabi-nabi palsu disamakan dengan "serigala yang buas" yang menyamar "seperti domba" ( Mat. 7: 15), dan kita diberi tahu bahwa "dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" ( Mat. 7: 16). Pekerjaan utama mereka adalah penyesatan ( Mat. 7: 17-20).
Yesus sendiri menyatakan bahwa "banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang" ( Mat. 24: 11), dan "sekiranya mungkin, mereka menyesat kan orang-orang pilihan juga" ( Mat. 24: 24; lihat juga Mrk. 13: 22; 1 Yoh. 4: 1).
Hidup oleh iman, mengenakan "baju zirah keadilan," berikatpinggangkan "kebenaran," serta berserah kepada Roh Kudus melalui doa, dan berakar di dalam Firman-Nya—inilah cara-cara kita dapat dilindungi dari semua yang sebaliknya akan menyesatkan kita secara rohani dan teologis.