Nabi Perempuan dan Rekan Pastoral Muda
Pada zaman Perjanjian Lama, Allah memanggil baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi utusan-Nya. Pada zaman Perjanjian Baru, ada bukti jelas tentang nabi perempuan. Hana adalah orang pertama yang disebut "nabiah" dalam Perjanjian Baru. Ia adalah seseorang yang, dalam pelayanan purnawaktunya, "siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa … ia mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu" ( Luk. 2: 37, 38).
Kisah Para Rasul 21: 9 mengatakan bahwa Filipus mempunyai "empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat." Sejarawan Perjanjian Baru, seperti Eusebius, telah menemukan teks-teks kemudian yang menyebutkan di mana kemungkinan mereka tinggal, dan kemudian dimakamkan.
Bagaimanapun, apa yang kita lihat adalah perempuan, kemungkinan besar perempuan muda, yang memiliki karunia nubuat. Kita tidak tahu persis apa yang mereka nubuatkan atau sejauh mana pelayanan mereka. Namun, satu hal yang kita ketahui tentang para perempuan muda dengan karunia nubuat ini: tidak ada satu pun kata-kata nubuat mereka yang masuk ke dalam kanon, Alkitab. Artinya, seperti banyak orang lain, mereka adalah nabi nonkanonik, nabi sejati yang kata-katanya, tulisannya, atau apa pun, tidak dijadikan buku-buku Alkitab.
Selain nabi perempuan, pendeta muda bekerja dalam hubungan dekat dengan para rasul. Rasul membimbing para pemimpin muda untuk pelayanan. Paulus, misalnya, menyapa Timotius sebagai "anakku yang sah di dalam iman" ( 1 Tim. 1: 2; lihat juga 1 Tim. 4: 12). Paulus mengajarkan Timotius dasar-dasar pelayanan pastoral. Ia menyatakan mengenai panggilannya: "Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni" ( 1 Tim. 1: 18).
Dalam Titus 1: 4, Paulus memperkenalkan Titus sebagai "anakku yang sah menurut iman kita bersama." Paulus memberi Titus tugas untuk mengangkat pemimpin bagi orang-orang percaya di Kreta, jemaat yang menantang. Ia menawarkan nasihat rohani kepada Titus muda tentang bagaimanakah mendekati tanggung jawab penting ini, lalu menyimpulkan: "Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah" ( Tit. 2: 15).