Penderitaan dan Kemuliaan
John Huss, reformis besar dari Bohemia, pernah berkata tentang Yesus, "Ia adalah Tuhan dunia ini, dan kita adalah manusia berdosa yang hina dan keji namun Dia telah menderita untuk kita! Kalau begitu, mengapa kita juga tidak menderita, terutama kalau penderitaan itu bagi kita adalah penyucian?"—Ellen G. White, Kemenangan Akhir (2023), hlm. 90.
Rasul Paulus menunjukkan kesediaan yang sama untuk menderita bagi Kristus berabad-abad sebelumnya. Ia tahu bahwa ia tidak lebih dari bejana rapuh yang terbuat dari tanah liat ( 2 Kor. 4: 7). Ia terus-menerus merasa ditindas, bingung, dianiaya, dan dihempaskan, namun ia tidak hancur, putus asa, ditinggalkan, atau binasa ( 2 Kor. 4: 8, 9). Ia bersedia membawa "kematian Yesus di dalam tubuh, supaya kehidupan Yesus" dinyatakan di dalam dirinya ( 2 Kor. 4: 10, 11).
Dengan "kematian Yesus", Paulus mungkin merujuk pada penderitaan yang ia sebutkan di ayat-ayat sebelumnya. Sebaliknya, frasa "kehidupan Yesus" kemungkinan merujuk pada kelepasan dari kematian atau kuasa rohani untuk kehidupan saat ini. Namun, pada akhirnya, ini adalah rujukan kepada kebangkitan ( 2 Kor. 4: 12).
Menariknya, pasangan kata "kematian dan kehidupan" muncul tiga kali dalam 2 Korintus 4: 10–12. Ini adalah pengingat bahwa, di zaman sekarang, kehidupan bercampur dengan kematian. Namun, dalam kemuliaan masa depan, kita akan mengalami kehidupan tanpa adanya kematian ( Why. 20: 14, Why. 21: 4).
Yang terpenting, 2 Korintus 4: 7–18 menunjukkan bahwa Injil diberitakan melalui manusia yang rapuh agar kemuliaan hanya bagi Allah semata ( 2 Kor. 4: 15). Tidak jarang, misionaris menderita dalam menjalankan pekerjaan misi mereka. Namun, penderitaan ini di sini ringan dan sementara jika dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang melimpah yang menanti kita ( 2 Kor. 4: 17). Orang percaya hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan ( 2 Kor. 4: 18, 2 Kor. 5: 7).
Pengharapan akan kehidupan di masa depan ini begitu menangkap pikiran Paulus sehingga ia terus membicarakannya dalam alur perikop tersebut ( 2 Kor. 5: 1–10). Ia merujuk pada tubuh fananya dengan metafora rumah duniawi. Sebaliknya, "bangunan dari Allah" adalah metafora untuk tubuh yang dibangkitkan ( 2 Kor. 5: 1), pengharapan besar bagi orang percaya dari segala zaman.