Buah dari Pelayanan Sejati
Surat-surat pujian lazim digunakan di dunia Yunani-Romawi. Namun, Paulus tidak membawa surat-surat semacam itu. Kuasa Roh yang mengubah kehidupan jemaat Korintus adalah bukti dari pelayanannya yang sejati. Namun, Paulus yakin bahwa bukan melalui kecerdasan atau usahanya jemaat di Korintus terbentuk ( 2 Kor. 3: 4–6). Ia tidak terlibat dalam promosi diri ( 2 Kor. 3: 5, 1 Kor. 2: 2).
Paulus berbicara tentang pelayanannya dengan membahas secara singkat kedua perjanjian: perjanjian lama yang diwakili oleh Musa dan perjanjian baru yang diwakili oleh dirinya dan rekan-rekannya. Pembaca yang tergesa-gesa mungkin berpikir bahwa perjanjian lama tidak memberikan harapan keselamatan, tetapi ini tidak benar. Keselamatan tersedia dalam Perjanjian Lama sama seperti dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Lama adalah Injil yang diberitakan lebih dahulu. "Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: 'Olehmu segala bangsa akan diberkati'" ( Gal. 3: 8).
Dalam 2 Korintus 3: 1–4: 6, kita dapat melihat bahwa Perjanjian Lama digunakan untuk melambangkan pengalaman legalistis dari mereka yang mengandalkan perbuatan ketaatan mereka sendiri sebagai cara untuk menyenangkan Tuhan. Namun, Perjanjian Baru mewakili pengalaman mereka yang bersandar sepenuhnya pada kasih karunia Allah untuk melakukan semua yang telah dijanjikan Allah untuk dilakukan bagi mereka dan di dalam mereka.
Paulus sedang berbicara tentang dua tanggapan yang berbeda, oleh orang percaya dan orang yang tidak percaya, terhadap Injil. Ia tidak berbicara tentang Injil yang berbeda, satu di Perjanjian Lama dan yang lain di Perjanjian Baru—karena hanya ada satu Injil, yang ditawarkan oleh Allah, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman" ( 2 Tim. 1: 9).
Ini bukan untuk menyangkal bahwa 2 Korintus 2: 14–4: 6 mengandung beberapa unsur historis. Tetapi ia menggunakan sejarah itu untuk menegaskan bahwa beberapa di antara mereka "diselamatkan" dan beberapa "binasa" ( 2 Kor. 2: 15). Karena reaksi ketidakpercayaan dan kurangnya iman terhadap pelayanan Musa, pelayanannya dapat dipandang sebagai pelayanan yang mendatangkan hukuman dan kematian. Karena jemaat di Korintus percaya, pelayanan Paulus di antara mereka terbukti sebagai pelayanan kebenaran, pelayanan Roh yang memberi hidup.
Pengalaman keselamatan jemaat di Korintus inilah yang menjadi bukti dari pelayanan Paulus yang sejati.