Tuhan adalah Gembalaku. Mazmur 23:1

Search Now!
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
2025-04 Pelajaran 2 04 Oct 2025 - 10 Oct 2025

Dikejutkan oleh Anugerah

Ayat Hafalan

"**:** "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik" (Ibrani 11: 31)."

Bacaan Pekan Ini: Yos. 2: 1-21, Bil. 14: 1-12, Ibr. 11: 31, Kel. 12: 13, Yos. 9, Neh. 7: 25.

Kamis (Hari #6) 09 October 2025

Anugerah yang Mengejutkan

Pertanyaan Diskusi:
Bacalah Yosua 9: 21-27. Bagaimanakah solusi Yosua menggabungkan keadilan dengan kasih karunia?

Walau seandainya orang Israel ingin menyerang orang Gibeon, mereka tidak akan diizinkan untuk melakukannya karena sumpah yang telah diucapkan oleh para pemimpin bangsa. Para pemimpin Israel bertindak sesuai dengan prinsip bahwa sumpah, selama tidak melibatkan kesalahan atau niat kriminal ( Hak. 11: 29-40), adalah mengikat, walau hal itu menyakitkan secara pribadi.

Dalam Perjanjian Lama, bersikap bijaksana sebelum bersumpah, dan menepati sumpahnya, dipandang sebagai kebajikan bagi orang saleh ( Mzm. 15: 4; Mzm. 24: 4; Pkh. 5: 2, 6). Karena sumpah itu diucapkan dalam nama Tuhan, Allah Israel, para pemimpin tidak dapat mengubahnya.

Dengan sumpah yang diucapkan oleh para pemimpin Israel, takdir Israel tidak terpisahkan dari takdir orang Gibeon. Bahkan, melalui penunjukan mereka sebagai pembelah kayu dan pembawa air untuk rumah Tuhan ( Yos. 9: 23), orang Gibeon menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas penyembah Israel. Jawaban Yosua berbeda dengan keputusan para penguasa Israel, yang menetapkan "orang Gibea" menjadi hamba ( Yos. 9: 21, NKJV), mengubah kutuk menjadi berkat yang potensial bagi orang Gibeon (bandingkan dengan 2 Sam. 6: 11).

Sejarah Gibeon selanjutnya membuktikan keistimewaan religius yang tinggi yang dinikmati kota ini, serta kesetiaan mereka kepada umat Allah. Sumpah yang diucapkan oleh bangsa Israel tetap berlaku dari generasi ke generasi, sehingga ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel, orang-orang Gibeon termasuk di antara mereka yang membantu membangun kembali Yerusalem ( Neh. 7: 25). Tindakan mereka akan memiliki konsekuensi positif yang kekal, tetapi hanya karena kasih karunia Allah.

Apa yang mungkin terjadi seandainya orang Gibeon mengungkapkan identitas mereka dan meminta belas kasihan seperti yang dilakukan Rahab? Kita tidak tahu, tetapi kita tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa bahkan sebuah konsultasi tentang kehendak Allah dapat menghasilkan pembebasan bagi orang-orang Gibeon dari kebinasaan. Tujuan utama Allah bukanlah untuk menghukum orang berdosa, tetapi untuk melihat mereka bertobat dan mengaruniakan belas kasihan-Nya kepada mereka (bandingkan dengan Yeh. 18: 23 dan Yeh. 33: 11). Dalih orang Gibeon harus dilihat sebagai seruan kepada belas kasihan Allah, kepada karakter-Nya yang baik dan adil. Penolakan bangsa Kanaan untuk bertobat dan pembangkangan mereka terhadap maksud Allahlah yang membawa mereka kepada kemusnahan ( Kej. 15: 16). Allah menghormati pengakuan orang Gibeon atas supremasi-Nya, serta keinginan mereka untuk berdamai dan tidak memberontak, serta kesediaan mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala dan menyembah satu-satunya Allah yang benar.