Nilai-Nilai yang Bertentangan
Pasal Yosua ini dimulai dengan menginformasikan bahwa lima raja Kanaan yang biasanya memerintah atas kota-kota kecil memutuskan untuk berkoalisi melawan bangsa Israel. Sebaliknya, penduduk Gibeon memutuskan untuk membuat perjanjian dengan Israel.
Untuk mengelabui orang Israel agar mau membuat perjanjian dengan mereka, orang Gibeon menggunakan cara dengan menjadi duta dari negara asing. Menurut Ulangan 20: 10-18, Tuhan membuat perbedaan antara orang Kanaan dan orang-orang yang tinggal di luar Tanah Perjanjian.
Kata yang diterjemahkan sebagai "banyak akal" atau "licik" dapat digunakan dalam arti positif, yang menunjukkan kehati-hatian dan kebijaksanaan ( Ams. 1: 4; Ams. 8: 5, 12), atau negatif, yang menyiratkan niat jahat ( Kel. 21: 14, 1 Sam. 23: 22, Mzm. 83: 3). Dalam kasus orang Gibeon, di balik tindakan pengkhianatan mereka, ada maksud yang tidak terlalu merusak, yaitu untuk mempertahankan diri.
Perkataan orang Gibeon sangat mirip dengan perkataan Rahab. Keduanya mengakui kuasa Allah Israel, dan keduanya mengakui bahwa keberhasilan Israel bukanlah semata-mata prestasi manusia. Berbeda dengan orang Kanaan lainnya, mereka tidak memberontak terhadap rencana Yahwe untuk memberikan negeri itu kepada orang Israel, dan mereka mengakui bahwa Tuhan sendiri yang menghalau bangsa-bangsa itu keluar dari hadapan orang Israel. Berita tentang kelepasan mereka dari Mesir, dan kemenangan mereka atas Sihon dan Og, mendorong Rahab dan orang Gibeon untuk mencari persekutuan dengan orang Israel. Namun, ketimbang mengakui sepenuhnya kesediaan mereka untuk menyerah kepada Allah Israel seperti yang dilakukan Rahab, orang Gibeon menggunakan tipu muslihat.
Hukum Musa membuat ketentuan untuk mengetahui kehendak Tuhan dalam kasus-kasus seperti ini ( Bil. 27: 16-21). Yosua seharusnya mencari tahu kehendak Tuhan dan menghindari tipu daya orang Gibeon.
Tugas mendasar dari seorang pemimpin teokratis, dan juga setiap pemimpin Kristen, adalah mencari kehendak Tuhan ( 1 Taw. 28: 9, 2 Taw. 15: 2, 2 Taw. 18: 4, 2 Taw. 20: 4). Dengan mengabaikannya, bangsa Israel terpaksa melanggar syarat-syarat dasar untuk menaklukkan negeri itu atau melanggar sumpah yang dibuat dalam nama Tuhan, yang sama mengikatnya.