Nilai di Tempat-Tempat yang Tak Terduga
Inti dari kisah Rahab adalah kebohongan yang dia lakukan untuk melindungi mata-mata itu. Dalam mempertimbangkan kebohongannya, kita harus menyadari bahwa ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang sangat berdosa, yang pada akhirnya berujung pada keputusan Allah untuk menghakimi masyarakat tersebut ( Kej. 15: 16, Ul. 9: 5, Im. 18: 25-28). Meskipun benar bahwa Perjanjian Baru memuji imannya, analisis yang cermat terhadap referensi Perjanjian Baru mengenai tindakan Rahab mengungkapkan bahwa tidak ada yang mendukung semua hal tentangnya, dan tidak ada yang mengesahkan kebohongannya.
Ibrani 11: 31 menegaskan imannya untuk memihak para pengintai ketimbang untuk tetap berpegang pada budaya yang korup. Yakobus 2: 25 memuji tawarannya untuk memberikan penginapan kepada dua mata-mata Israel dan memberikan petunjuk kepada mereka tentang cara untuk kembali melalui rute yang aman. Di tengah-tengah budaya yang rusak dan korup serta gaya hidup Rahab yang penuh dosa, Allah, dalam kasih karunia-Nya, melihat secercah iman yang melaluinya Dia dapat menyelamatkannya. Allah menggunakan apa yang baik dalam diri Rahab --- yaitu iman yang nyata kepada-Nya dan pilihannya untuk menjadi bagian dari umat-Nya --- namun tidak pernah memuji segala sesuatu yang dilakukannya. Allah menghargai Rahab karena keberaniannya yang luar biasa, karena imannya yang berani, karena menjadi agen keselamatan, dan karena memilih Allah Israel.
Setelah melihat apa yang terjadi, dia menyatakan "sebab TUHAN, Allahmu, Dialah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah" ( Yos. 2: 11, NKJV). Sangatlah penting untuk mendengar seorang wanita Kanaan mengakui bahwa Yahwe adalah satu-satunya Tuhan, terutama di atas atap di mana, dalam agama paganismenya, doa-doa biasanya dipanjatkan kepada apa yang mereka yakini sebagai dewa-dewi langit.
Ungkapan Rahab hanya ditemukan sebelumnya dalam konteks hak eksklusif Allah untuk menerima penyembahan ( Kel. 20: 4, Ul. 4: 39, Ul. 5: 8). Kata-katanya menjadi saksi atas pilihan yang terencana dan penuh pertimbangan untuk mengakui bahwa Allah orang Israel adalah satu-satunya Tuhan yang benar. Pengakuannya menunjukkan pemahamannya tentang hubungan yang erat antara kedaulatan Allah dan penghakiman yang akan menimpa Yerikho.
Pilihan moralnya menyadari bahwa, dalam terang penghakiman Yahwe, hanya ada dua kemungkinan: terus memberontak terhadap-Nya dan dimusnahkan, atau memilih untuk berserah dengan iman. Dengan memilih Allah orang Israel, Rahab menjadi contoh tentang apa yang bisa menjadi nasib semua penduduk Yerikho seandainya mereka berbalik kepada Allah Israel untuk memohon belas kasihan.