Dengan Tulus dan Setia
Seruan Yosua dengan jelas mengungkapkan fakta bahwa Israel harus memutuskan untuk memilih, setia kepada Sang Pencipta, mempertahankan keunikan mereka dan hidup di negeri itu, atau kembali menjadi satu di antara banyak bangsa penyembah berhala, tanpa identitas, tujuan, atau misi yang jelas. Pilihan ada di tangan mereka.
Imbauan Yosua ada dua: Israel harus takut akan Tuhan dan melayani Dia "dengan tulus dan setia". Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam kegentaran dan rasa tidak aman secara emosional. Hal ini lebih mengacu pada rasa hormat dan kagum yang berasal dari pengakuan akan besarnya, kudusnya, dan ketidakterbatasan Allah yang tak terselami di satu sisi, dan kecilnya, berdosanya, dan terbatasnya kita di sisi lain. Takut akan Allah adalah kesadaran yang terus-menerus akan besarnya tuntutan-Nya, pengakuan bahwa Dia bukan hanya Bapa surgawi kita, tetapi juga Raja Ilahi kita. Kesadaran seperti itu akan menuntun kita kepada kehidupan yang taat kepada Allah ( Im. 19: 14, Im. 25: 17, Ul. 17: 19, 2 Raj. 17: 34). Sementara "takut” menggambarkan sikap batin yang harus menjadi ciri khas orang Israel, hasil praktis dari rasa hormat kepada Tuhan adalah pelayanan.
Pelayanan yang dituntut dari Israel dicirikan oleh dua istilah Ibrani: "dengan tulus” dan “dalam kebenaran". Istilah pertama (tamim) sebagian besar digunakan sebagai kata sifat untuk menggambarkan kesempurnaan hewan korban. Istilah kedua yang menggambarkan pelayanan Israel adalah "kebenaran", atau "kesetiaan” (Ibr. 'emet). Istilah ini secara umum berkonotasi dengan keteguhan dan stabilitas. Istilah ini biasanya merujuk kepada Allah, yang karakter-Nya secara intrinsik dicirikan oleh kesetiaan, yang dimanifestasikan kepada Israel.
Orang yang setia adalah orang yang dapat diandalkan dan dipercaya. Pada dasarnya, Yosua meminta Israel untuk menunjukkan kesetiaan yang sama kepada Allah yang telah ditunjukkan Allah kepada umat-Nya sepanjang sejarah mereka. Hal ini bukan hanya sekadar kepatuhan lahiriah terhadap tuntutan-Nya, tetapi apa yang muncul dari konsistensi hati yang tidak terbagi. Kehidupan mereka harus mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan bagi mereka. Pada dasarnya, demikianlah seharusnya hubungan kita saat ini dengan Yesus.