Berpegang Teguh pada Tuhan
Satu-satunya cara agar bangsa Israel dapat terhindar dari godaan penyembahan berhala dan murka Allah bukanlah dengan terus-menerus mengingat “larangan-larangan" dalam perjanjian tersebut, tetapi dengan memupuk kesetiaan yang sadar dan konsisten kepada Tuhan. Kata kerja yang sama, “berpaut, berpegang" kepada Tuhan (lihat Ul. 4: 4), juga digunakan untuk menggambarkan perjanjian pernikahan yang dimaksudkan antara istri dan suami ( Kej. 2: 24) atau kesetiaan Rut kepada Naomi ( Rut 1: 14). Penting untuk dicatat bahwa, menurut penilaian Yosua, kesetiaan seperti itu telah menjadi ciri khas Israel sebagai bangsa "sampai hari ini." Sayangnya, pernyataan yang sama tidak berlaku untuk periode-periode selanjutnya dalam sejarah Israel, seperti yang ditunjukkan oleh kitab Hakim-Hakim dengan menyedihkan ( Hak. 2: 2, 7, 11; Hak. 3: 7, 12; Hak. 4: 1, dsb.)
Agar Israel dapat terus menikmati berkat-berkat perjanjian, mereka harus tetap setia kepada Allah. Bahasa Ibrani sangat tegas: “Berhati-hatilah demi jiwamu sendiri." Kata 'ahaba, "kasih", dapat merujuk kepada berbagai macam kasih sayang manusia, termasuk keterikatan persahabatan, keintiman seksual, kelembutan keibuan, cinta romantis, dan kesetiaan kepada Allah. Jika kita memahami kasih kepada Allah sebagai komitmen dan pengabdian yang disadari kepada-Nya, maka kasih itu dapat diperintahkan tanpa melanggar hakikat yang sebenarnya (bandingkan dengan Yoh. 13: 34). Allah selalu bermaksud agar ketaatan pada perintah-perintah-Nya muncul dari hubungan pribadi dengan-Nya ( Kel. 19: 4 "Aku membawa engkau kepada-Ku," NKJV], [Ul. 6: 5</span>, bandingkan dengan <span class="bible-ref-badge tag is-info is-light font-semibold my-1" data-bible-ref="Mat. 22: 37" data-sspm="Matt2237" style="display: inline-flex; align-items: center; gap: 0.25rem; cursor: pointer;"><i class="bx bx-book-open"></i> Mat. 22: 37</span>) berdasarkan apa yang telah Dia lakukan bagi mereka dalam belas kasihan dan kasih-Nya yang besar.
Perintah untuk mengasihi Allah juga mengungkapkan sifat kasih Ilahi yang timbal balik, tetapi tidak simetris. Allah ingin masuk ke dalam sebuah hubungan pribadi yang intim dengan setiap orang yang membalas kasih-Nya. Dengan demikian, kasih-Nya yang universal kepada semua orang merupakan kerangka kerja bagi perwujudan kasih timbal balik yang bersifat sukarela.