Tanda Keprihatinan
Kesimpulan yang mulia dari keseluruhan bagian ini ( Yos. 21: 43-45) mengandung syarat ketaatan yang digenapi. Keberhasilan tidak pernah diterima begitu saja; keberhasilan selalu dikaitkan dengan ketaatan kepada Firman Tuhan. Dengan demikian, pembagian tanah, selain sebagai tanda kesetiaan Allah kepada Israel ( Neh. 9: 8), juga membuka ruang bagi pembangunan masa depan yang terbuka berdasarkan sikap Israel. Akankah Israel dapat mempertahankan apa yang telah dicapai?
Pidato Yosua berpindah dari pembicara yang sudah tua dan lanjut usia (ditekankan dua kali) kepada para hadirin yang harus meneruskan misi yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Dia menjelaskan bagaimana penaklukan negeri itu bisa terjadi: Tuhan berperang untuk mereka. Meskipun, karena ketidaksetiaan dan ketidakpercayaan mereka, bangsa Israel harus terlibat dalam peperangan setelah Eksodus, namun bukan karena kekuatan militer mereka, melainkan karena campur tangan Tuhan, mereka berhasil memiliki tanah itu.
Allah telah memberikan kelegaan kepada Israel dari musuh-musuhnya, tetapi masih ada beberapa bangsa yang masih harus ditaklukkan. Kemenangan bukanlah sebuah realitas yang sudah tercapai dan tidak dapat diubah bagi Israel, melainkan sebuah kemungkinan yang selalu ada dengan terus bersandar pada tersedianya pertolongan Tuhan yang setia.
Kemenangan bangsa Israel tidak dapat dikaitkan dengan kekuatan dan strategi mereka. Demikian pula, kemenangan rohani atas dosa dan pencobaan telah dijamin melalui pengorbanan dan kebangkitan Yesus Kristus, tetapi umat Allah saat ini harus terus-menerus mengandalkan persediaan rohani yang disediakan oleh Roh Kudus untuk menjalani kehidupan yang berkemenangan.