Murka Tuhan
Israel telah mengalami kemarahan Tuhan selama pengembaraan di padang gurun ( Bil. 11: 33, Bil. 12: 9), serta di Tanah Perjanjian ( Yos. 7: 1), dan mereka sepenuhnya sadar akan konsekuensi yang ditimbulkan dengan memprovokasi kemarahan Yahwe yang secara terang-terangan melanggar perjanjian. Ayat-ayat ini mewakili klimaks dari kerasnya retorika Yosua. Sangat mengejutkan mendengar bahwa Tuhan akan menghancurkan Israel, karena istilah yang sama sebelumnya telah digunakan untuk merujuk pada pemusnahan bangsa Kanaan. Sebagaimana janji-janji berkat Tuhan bagi Israel telah digenapi dengan setia, demikian juga semua kutuk perjanjian ( Im. 26, Ul. 28) akan menjadi kenyataan jika orang Israel mengingkari perjanjian tersebut. Dalam terang perampasan dan penghancuran bangsa Kanaan, ayat-ayat ini sekali lagi menunjukkan bahwa Yahwe pada akhirnya adalah hakim atas seluruh bumi. Dia menyatakan perang melawan dosa, di mana pun dosa itu ditemukan. Israel tidak dikuduskan, dan tidak memperoleh pahala khusus, karena berpartisipasi dalam perang suci seperti halnya bangsa-bangsa kafir juga kemudian menjadi alat penghakiman Yahwe terhadap bangsa pilihan-Nya.
Hal ini terletak pada kekuatan pilihan Israel untuk menjadikan kepastian masa lalu yang gemilang sebagai fondasi untuk menghadapi masa depan.
Sekilas, ajaran Alkitab tentang murka Allah tampaknya tidak sesuai dengan penegasan bahwa Allah itu kasih ( Yoh. 3: 16, 1 Yoh. 4: 8). Namun, justru dalam terang murka Allah, doktrin Alkitab tentang kasih Allah menjadi semakin relevan. Pertama, Alkitab menggambarkan Allah sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang, panjang sabar, dan siap mengampuni ( Kel. 34: 6, Mi. 7: 18). Namun, dalam konteks dunia yang dipengaruhi oleh dosa, murka Tuhan adalah sikap kekudusan dan kebenaran-Nya ketika dihadapkan dengan dosa dan kejahatan. Murka-Nya tidak pernah merupakan reaksi yang emosional, balas dendam, dan tidak dapat diprediksi. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Kristus telah menjadi dosa karena kita ( 2 Kor. 5: 21), dan melalui kematian-Nya, kita telah diperdamaikan dengan Allah ( Rm. 5: 10). Barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan menghadapi murka Allah ( Yoh. 3: 36, Ef. 2: 3, 1 Tes. 1: 10). Konsep murka Allah menggambarkan Allah sebagai hakim yang adil atas alam semesta dan Yang menegakkan keadilan ( Mzm. 7: 11, Mzm. 50: 6, 2 Tim. 4: 8).