Perubahan Rencana
Apa yang akan Musa lakukan? Apakah dia akan menyerah pada iming-iming Mesir dan kesenangan istana, atau apakah dia akan menanggung penderitaan bersama bangsanya yang diperangi? Peristiwa-peristiwa segera memaksa Musa untuk mengambil keputusan.
"Ketika Firaun mendengar hal itu, ia berusaha membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tinggal di tanah Midian, lalu ia duduk di dekat sebuah sumur" ( Kel. 2: 15).
Setelah pembunuhan itu, Musa benar-benar tidak memiliki pilihan, setidaknya untuk tetap tinggal di Mesir. Dengan demikian, apa pun rencana yang ada baginya untuk naik ke takhta Mesir dan menjadi "allah", rencana itu segera berakhir. Daripada menjadi tuhan, dan tuhan yang palsu, Musa lebih memilih untuk melayani Tuhan yang benar. Tidak diragukan lagi, pada saat ia melarikan diri, Musa tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
"Segala perkara ini tentang Musa membunuh orang Mesir] dengan cepat diberitahukan kepada orang-orang Mesir, dan berita yang amat dibesar-besarkan itu, dengan segera pula sampai ke telinga Firaun. Dinyatakan kepada raja bahwa tindakan ini berarti banyak; bahwa Musa bermaksud untuk memimpin bangsanya melawan orang Mesir, untuk menggulingkan pemerintah, dan menempatkan dirinya di atas takhta dan bahwa tidak akan ada keamanan bagi kerajaan Mesir selama ia masih hidup. Pada saat itu juga diputuskan oleh raja bahwa Musa harus dibunuh; tetapi menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya, Musa telah melarikan diri ke tanah Arab"-Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 290. Musa hidup selama 120 tahun ([Ul. 34: 7</span>), dan hidupnya dapat dibagi menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari 40 tahun. Empat puluh tahun pertama berada di Mesir, sebagian besar di istana kerajaan. Empat puluh tahun kedua dihabiskannya di rumah Yitro di wilayah Midian.
Akan tetapi, 40 tahun terakhirlah yang mengisi sebagian besar dari lima kitab pertama Musa (dan seperempat bagian ini), dan kitab-kitab ini menceritakan kisah panggilan awal Israel untuk bersaksi kepada dunia yang penuh dengan penyembahan berhala, yang menyingkapkan sifat dan karakter Allah yang benar (lihat Ul. 4: 6-8).
Bacaan Tambahan: Kutipan Terpilih dari Ellen G. White
Musa mengira bahwa pendidikannya dalam hikmat Mesir telah sepenuhnya memenuhi syarat baginya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan. Bukankah ia telah mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang jenderal perang? Bukankah ia telah menerima keuntungan terbesar dari sekolah-sekolah terbaik di negeri itu? — Benar; ia merasa bahwa ia mampu membebaskan bangsa itu. Usaha pertamanya dimulai dengan mencoba merebut hati bangsanya sendiri dengan membela mereka dari ketidakadilan. Ia membunuh seorang Mesir yang sedang menyiksa salah satu dari saudara sebangsanya. Dalam tindakan itu ia memperlihatkan semangat dari dia yang adalah pembunuh sejak semula, dan membuktikan dirinya tidak layak untuk mewakili Allah yang penuh belas kasih, kasih sayang, dan kelembutan. Ia gagal total dalam usaha pertamanya. Seperti banyak orang lainnya, ia kemudian segera kehilangan kepercayaannya kepada Allah dan berpaling dari tugas yang telah ditetapkan baginya. Ia melarikan diri dari murka Firaun. Ia menyimpulkan bahwa karena kesalahannya—dosa besarnya dalam membunuh orang Mesir yang kejam itu—Allah tidak akan mengizinkannya ambil bagian dalam tugas membebaskan umat-Nya dari perbudakan yang kejam. Tetapi Tuhan mengizinkan semua ini terjadi supaya Ia dapat mengajarkan kepadanya kelembutan, kebaikan, dan kesabaran—sifat-sifat yang sangat penting dimiliki oleh setiap pekerja bagi Sang Guru; sebab karakteristik-karakteristik inilah yang menjadikan seorang pekerja berhasil dalam perkara Tuhan. — Fundamentals of Christian Education, hlm. 342.
Pelajaran tentang kelemahlembutan yang seperti Kristus, kerendahan hati, dan rasa hormat terhadap hal-hal suci tidak diajarkan secara efektif di mana pun kecuali di sekolah Kristus. Musa pernah diajarkan untuk mengharapkan sanjungan dan pujian karena kemampuan-kemampuannya yang luar biasa; tetapi sekarang ia harus mempelajari pelajaran yang berbeda. Sebagai gembala domba, Musa diajarkan untuk memperhatikan mereka yang menderita, merawat yang sakit, dengan sabar mencari yang tersesat, bersabar terhadap yang memberontak, dan dengan kasih menyediakan keperluan anak-anak domba yang lemah dan kebutuhan mereka yang tua dan lemah. Saat sisi-sisi karakter ini dikembangkan, ia pun ditarik makin dekat kepada Gembala Agungnya. Ia menjadi bersatu, bahkan larut dalam Pribadi Yang Mahakudus dari Israel. Ia percaya kepada Allah yang besar. Ia bersekutu dengan Bapa melalui doa yang rendah hati. Ia mencari pendidikan rohani dari Yang Mahatinggi, serta pengertian akan tugasnya sebagai seorang gembala yang setia. Hidupnya menjadi begitu dekat dengan surga sehingga Allah berbicara kepadanya muka dengan muka. — Fundamentals of Christian Education, hlm. 343.
Tindakan gegabah Musa dalam membunuh orang Mesir digerakkan oleh semangat yang lancang. Iman berjalan dalam kekuatan dan hikmat Allah, bukan dalam jalan manusia. Melalui iman yang sederhana, Musa mampu melewati kesulitan dan mengatasi rintangan yang tampaknya tidak dapat diatasi. … Allah dapat menyatakan kuasa-Nya yang besar melalui Musa karena iman Musa yang terus-menerus kepada kuasa dan maksud kasih dari Sang Pembebas. Iman penuh inilah kepada Allah yang membentuk Musa menjadi pribadi seperti yang kita kenal. "Segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya, itulah yang dilakukannya." — Fundamentals of Christian Education, hlm. 344.
Catatan: Kutipan di atas diambil dari Komentar Ellen G. White untuk Pelajaran Sekolah Sabat, diterbitkan oleh Pacific Press Publishing Association. Digunakan dengan izin.