Musa Dilahirkan
Latar belakang sejarah kelahiran dan kehidupan Musa sangat menggetarkan karena ia hidup pada masa dinasti ke-18 Mesir yang terkenal. Seorang raja pada masa dinasti ini-Thutmose III, yang dijuluki "Napoleon dari Mesir"-dianggap sebagai salah satu Firaun paling terkenal di Mesir kuno.
Meskipun berada di bawah ancaman hukuman mati saat dilahirkan (lihat Kel. 1: 22), Musa dilahirkan sebagai seorang anak yang "istimewa" (NLT; bahasa Ibrani tob, artinya “baik"; Kel. 2: 2). Istilah Ibrani ini menggambarkan lebih dari sekadar kecantikan luar. Kata ini digunakan, misalnya, untuk mencirikan karya Allah selama pekan Penciptaan, ketika Ia menyatakan bahwa segala sesuatu itu "baik", bahkan “sangat baik" ( Kej. 1: 4, 10, 31).
Sebagai ciptaan baru, anak yang “baik" ini, menurut rencana Allah, akan menjadi orang dewasa yang akan memimpin bangsa Ibrani keluar dari perbudakan. Pada saat kelahiran bayi ini, terutama dalam keadaan yang begitu mengerikan, siapakah yang dapat membayangkan masa depannya? Namun demikian, Allah akan menggenapi firman-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Dia telah membuat perjanjian dengan mereka bahwa Dia akan memberikan Tanah Perjanjian kepada keturunan mereka ( Kel. 2: 24, 25). Dan, ya, Dia akan menggunakan bayi ini, puluhan tahun kemudian, untuk melakukan hal itu. Hingga kemudian, putri Mesir Hatshepsut mengadopsi Musa sebagai putranya. Nama yang diberikan kepada Musa berasal dari Mesir, yang berarti "anak dari" atau "lahir dari", seperti yang tercermin dalam nama Ah-mose ("anak Akh") atau Thut-mose ("anak Thoth"). Dengan demikian, namanya diterjemahkan dalam bahasa Ibrani sebagai Mosheh, yang berarti "ditarik keluar”. Nyawanya secara ajaib diselamatkan ketika ia “ditarik keluar” dari sungai.
Kita hanya mengetahui beberapa hal tentang kehidupan awalnya. Setelah diselamatkan secara ajaib, dan diadopsi oleh Hatshepsut, Musa hidup selama 12 tahun pertama dengan keluarga aslinya ( Kel. 2: 7-9; Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 286). Musa kemudian menerima pendidikan terbaik di Mesir, semuanya untuk mempersiapkannya menjadi Firaun Mesir berikutnya (Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 287). Sungguh menarik bahwa pada akhirnya, begitu banyak pendidikan ini tidak berguna untuk, atau bahkan bertentangan dengan, apa yang benar-benar penting: pengetahuan akan Allah dan kebenaran-Nya.
Bacaan Tambahan: Kutipan Terpilih dari Ellen G. White
Ketika perintah itu masih berlaku sepenuhnya, lahirlah seorang anak laki-laki dari Amram dan Yokhebed, orang Israel yang saleh dari suku Lewi. Bayi itu adalah “anak yang elok,” dan orangtuanya, percaya bahwa saat pembebasan Israel sudah dekat dan bahwa Allah akan membangkitkan seorang pembebas bagi umat-Nya, memutuskan bahwa anak mereka itu tidak boleh dikorbankan. Iman kepada Allah menguatkan hati mereka, “dan mereka tidak takut akan perintah raja.” — Ibr 11: 23. Sang ibu berhasil menyembunyikan anak itu selama tiga bulan. Namun, setelah ia tidak dapat lagi menjaganya dengan aman, ia mempersiapkan sebuah peti kecil dari daun pandan, dan menutupinya rapat-rapat dengan ter dan gala-gala supaya tidak bocor. Ia meletakkan bayi itu di dalamnya, lalu menaruh peti itu di antara rumput-rumput tepi sungai. Ia tidak berani tinggal untuk menjaganya, karena itu bisa membahayakan nyawa anak itu maupun nyawanya sendiri; tetapi kakaknya, Miriam, tetap tinggal di dekat tempat itu. Ia berpura-pura tidak peduli, namun sebenarnya dengan cemas memperhatikan apa yang akan terjadi pada adiknya. Dan ada juga penjaga lain. Doa-doa penuh iman sang ibu telah menyerahkan anak itu kepada pemeliharaan Allah; dan malaikat-malaikat yang tak terlihat berjaga di atas tempat peristirahatan sederhana itu. Malaikat-malaikat membimbing putri Firaun ke tempat itu. Rasa ingin tahunya dibangkitkan oleh keranjang kecil itu, dan ketika ia memandang bayi yang elok di dalamnya, ia langsung mengerti kisah di baliknya. Tangisan sang bayi membangkitkan belas kasihan di hatinya, dan ia pun merasa tergerak oleh simpati kepada ibu yang tidak dikenal, yang telah menggunakan cara ini demi menyelamatkan nyawa anaknya yang sangat berharga. Ia memutuskan bahwa anak itu harus diselamatkan; ia akan mengangkatnya sebagai anaknya sendiri. — Patriarchs and Prophets, hlm. 242–243.
Allah telah mendengar doa sang ibu; imannya telah dibalas. Dengan penuh syukur yang mendalam ia menjalankan tugas barunya yang kini aman dan membahagiakan. Ia menggunakan kesempatan itu dengan setia untuk mendidik anaknya bagi Allah. Ia yakin bahwa anak itu telah diselamatkan untuk suatu pekerjaan besar, dan ia tahu bahwa tak lama lagi anak itu harus diserahkan kepada ibu angkatnya di istana, dan akan dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh yang dapat menjauhkannya dari Allah. Semua hal ini membuatnya lebih rajin dan berhati-hati dalam mendidik anak ini dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Ia berusaha memenuhi pikirannya dengan rasa takut akan Allah, serta kasih kepada kebenaran dan keadilan, dan ia dengan sungguh-sungguh berdoa agar anak itu dijaga dari setiap pengaruh yang merusak. Ia menunjukkan kepadanya kebodohan dan dosa penyembahan berhala, dan sejak dini mengajarkannya untuk berlutut dan berdoa kepada Allah yang hidup, satu-satunya yang dapat mendengar dan menolongnya dalam setiap keadaan darurat. Ia memelihara anak itu selama mungkin, tetapi akhirnya ia harus menyerahkannya ketika anak itu berumur sekitar dua belas tahun. Dari rumah sederhana tempat tinggalnya, anak itu dibawa ke istana kerajaan, kepada putri Firaun, “dan ia menjadi anaknya.” Namun, bahkan di sana pun, ia tidak melupakan kesan-kesan yang diterimanya sejak masa kecil. Pelajaran yang dipelajarinya di sisi ibunya tidak dapat dilupakan. Pelajaran-pelajaran itu menjadi perisai terhadap kesombongan, ketidakpercayaan, dan kebejatan yang berkembang dalam kemegahan istana kerajaan. — Patriarchs and Prophets, hlm. 243–244.
Catatan: Kutipan di atas diambil dari Komentar Ellen G. White untuk Pelajaran Sekolah Sabat, diterbitkan oleh Pacific Press Publishing Association. Digunakan dengan izin.