Para Bidan Ibrani
Kita tidak dapat memahami kitab Keluaran tanpa mengandaikan ajaran-ajaran kitab Kejadian. Orang-orang Yahudi pindah ke Mesir, dan, setelah mengalami masa kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa, mereka diperbudak.
Tetapi Allah tidak meninggalkan umat-Nya dalam masalah mereka, meskipun terkadang terlihat seperti itu. Tidak diragukan lagi, banyak orang Ibrani yang putus asa dengan keadaan mereka. Namun, pada saat kesusahan, Dia datang untuk menolong dengan tangan-Nya yang kuat. Tuhan kita menguatkan para pengikut-Nya: "Berserulah kepadaku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku" ( Mzm. 50: 15).
Tidak ada Firaun yang memiliki nama dalam kitab Keluaran. Mereka hanya menyandang gelar "Firaun", yang berarti “raja". Orang Mesir percaya bahwa Firaun adalah dewa di bumi, putra dewa Ra (atau Osiris atau Horus). Ra dianggap sebagai dewa Mesir tertinggi, dewa matahari itu sendiri.
Namun, terlepas dari semua kekuatannya, "tuhan” ini tidak dapat memaksa para bidan untuk melawan keyakinan mereka. Bahkan, berbeda dengan Firaun yang tidak memiliki nama, kedua bidan ini memiliki nama, yaitu Sifra dan Pua ( Kel. 1: 15); mereka sangat dihormati karena mereka takut akan Tuhan. Perintah Firaun yang jahat tidak berpengaruh pada mereka karena mereka lebih menghormati Tuhan daripada perintah penguasa duniawi (lihat juga Kis.5: 29). Dengan demikian, Tuhan memberkati mereka dengan keluarga besar mereka sendiri. Sungguh sebuah kesaksian yang kuat akan kesetiaan. Para perempuan ini, terlepas dari betapa sedikitnya pengetahuan mereka tentang teologi, mereka tidak hanya mengetahui apa yang benar, tetapi mereka juga memilih untuk melakukan apa yang benar. Ketika Firaun melihat bahwa rencananya gagal, dia memerintahkan orang Mesir untuk membunuh semua bayi laki-laki yang dilahirkan oleh orang Ibrani. Mereka harus melemparkannya ke Sungai Nil, mungkin sebagai persembahan kepada Hapi, dewa Sungai Nil, dan juga dewa kesuburan. (Ini adalah pertama kalinya tercatat bahwa orang Yahudi harus dibunuh hanya karena mereka orang Yahudi). Tujuan dari perintah kematian itu adalah untuk menaklukkan bangsa Ibrani, memusnahkan semua keturunan laki-laki, dan mengasimilasikan para wanita ke dalam bangsa Mesir, sehingga mengakhiri ancaman yang diyakini Firaun bahwa bangsa Ibrani mengancam bangsanya.
Bacaan Tambahan: Kutipan Terpilih dari Ellen G. White
Karena mereka gagal mencapai tujuan mereka, mereka mengeraskan hati dan melangkah lebih jauh lagi. Raja memerintahkan agar setiap anak laki-laki dibunuh segera setelah dilahirkan. Setanlah yang menggerakkan semua perkara ini. Ia tahu bahwa akan muncul seorang pembebas dari kalangan orang Ibrani untuk melepaskan mereka dari penindasan. Ia berpikir bahwa jika ia dapat menggerakkan hati raja untuk membunuh anak-anak laki-laki, maka maksud Allah akan digagalkan. Namun perempuan-perempuan itu takut akan Allah, dan mereka tidak melakukan seperti yang diperintahkan raja Mesir; mereka menyelamatkan anak-anak laki-laki itu hidup-hidup. Perempuan-perempuan itu tidak berani membunuh anak-anak Ibrani, dan karena mereka tidak menaati perintah raja, Tuhan memberkati mereka. Ketika raja Mesir mendengar bahwa perintahnya tidak ditaati, ia menjadi sangat marah. Maka ia mengeluarkan perintah yang lebih keras dan luas. Ia memerintahkan seluruh rakyatnya untuk berjaga dengan ketat, sambil berkata: “Setiap anak laki-laki yang lahir harus kamu lemparkan ke dalam sungai, dan setiap anak perempuan harus kamu biarkan hidup.” —_Spiritual Gifts_, jld. 3, hlm. 179.
Laki-laki, perempuan, dan kaum muda—Allah menuntut kalian memiliki keberanian moral, keteguhan tujuan, ketabahan dan ketekunan; pikiran yang tidak mudah menerima begitu saja pendapat orang lain, tetapi yang akan menyelidiki sendiri sebelum menerima atau menolak sesuatu; yang mau mempelajari dan mempertimbangkan bukti, serta membawanya dalam doa kepada Tuhan. “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Inilah syaratnya: “Hendaklah ia meminta dengan iman, sama sekali jangan bimbang. Sebab orang yang bimbang seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan angin. Orang yang demikian janganlah mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” Permohonan akan hikmat ini bukanlah doa yang tanpa makna dan segera terlupakan setelah diucapkan. Ini adalah doa yang menyatakan kerinduan yang sungguh-sungguh dari hati, yang timbul dari kesadaran akan kurangnya hikmat untuk mengetahui kehendak Allah… Setiap tindakan dalam hidup kita memengaruhi orang lain—untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Pengaruh kita cenderung mengarah ke atas atau ke bawah; ia dirasakan, ditindaklanjuti, dan dalam kadar tertentu direproduksi oleh orang lain. Jika melalui teladan kita, kita menolong orang lain dalam membentuk prinsip-prinsip yang baik, kita memberi mereka kuasa untuk melakukan yang benar. Pada gilirannya, mereka pun akan memberikan pengaruh yang sama kepada orang lain; dan dengan demikian, ratusan bahkan ribuan orang akan dipengaruhi oleh pengaruh kita—tanpa kita sadari. Namun, jika melalui tindakan kita, kita justru menguatkan atau membangkitkan kuasa jahat dalam diri orang-orang di sekitar kita, kita turut mengambil bagian dalam dosa mereka, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kebaikan yang seharusnya bisa kita lakukan bagi mereka, tetapi tidak kita lakukan, karena kita tidak menjadikan Allah sebagai kekuatan kita, penuntun kita, dan penasihat kita. — Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 130.
Catatan: Kutipan di atas diambil dari Komentar Ellen G. White untuk Pelajaran Sekolah Sabat, diterbitkan oleh Pacific Press Publishing Association. Digunakan dengan izin.