Sifat Alamiah dari Pertentangan Kosmis
Kita telah melihat beberapa ayat yang mengajarkan pertentangan kosmis antara Allah dan iblis. Namun bagaimanakah pertentangan seperti itu bisa terjadi? Bagaimanakah mungkin ada seseorang yang menentang Allah Yang Mahakuasa? Jika pertentangan kosmis hanya disebabkan oleh kekuasaan semata, maka pertentangan tersebut akan berakhir sebelum dimulai. Itu pastilah dari jenis yang berbeda. Memang benar, Kitab Suci menyatakan bahwa pertentangan tersebut adalah pertikaian mengenai karakter Allah-pertentangan karena fitnah iblis yang melontarkan tuduhan terhadap Allah, bahwa (antara lain) Allah tidak sepenuhnya baik dan penuh kasih. Tuduhan tersebut tidak dapat dikalahkan dengan kekuasaan atau kekerasan, melainkan dengan membandingkan dua karakter yang bersaing.
"Untuk menangani dosa, Allah hanya dapat menggunakan keadilan dan kebenaran. Iblis dapat menggunakan apa yang Allah tidak dapat atau tidak mau gunakan-sanjungan yang berlebihan dan penipuan atau kecurangan. Ia telah berusaha memalsukan firman Allah dan telah menyalahtafsirkan rencana pemerintahan-Nya di hadapan malaikat-malaikat, mengatakan bahwa Allah tidak adil dalam memberikan hukum-hukum dan peraturan-peraturan atas penghuni surga; sehingga di dalam menghendaki penyerahan dan penurutan dari makhluk ciptaan-Nya, ia hanya berusaha meninggikan diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu harus ditunjukkan di hadapan penghuni surga serta dunia-dunia lain, bahwa pemerintahan Allah adalah adil, dan hukum-hukum-Nya adalah sempurna. Iblis menunjukkan seolah-olah ia berusaha untuk memajukan kebaikan alam semesta. Sifat yang sebenarnya dari si perampas kekuasaan itu dan tujuannya yang sebenarnya harus dimengerti oleh semua. Ia harus mempunyai waktu untuk menyatakan dirinya melalui pekerjaan-pekerjaannya yang jahat--Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 521.
Rencana iblis sejak awal adalah berusaha membuat makhluk ciptaan percaya bahwa Allah tidak benar-benar adil dan penuh kasih serta hukum-Nya menindas dan menyakiti mereka. Tidak heran Yesus menyebut iblis sebagai "pendusta dan bapa segala dusta" ( Yoh. 8: 44). Sebaliknya, Yesus datang untuk "memberi kesaksian tentang kebenaran" ( Yoh. 18: 37) dan secara langsung melawan kebohongan dan fitnah iblis, mengalahkan dan, pada akhirnya, membinasakan iblis dan kuasanya ( 1 Yoh. 3: 8; Ibr. 2: 14).
Wahyu 12: 9, 10 mengidentifikasi iblis sebagai (1) "ular tua," (2) sebagai pribadi yang di pengadilan surgawi menuduh umat Allah, dan (3) sebagai penguasa naga yang menipu dunia. Kata Yunani yang diterjemahkan "iblis" berarti "pemfitnah", sekali lagi menunjukkan bahwa sifat dasar pertentangan itu adalah soal kepercayaan, termasuk kepercayaan tentang karakter Allah.