Kasih dan Kejahatan?
Allah telah menganugerahkan kebebasan memilih kepada makhluk ciptaan karena hal itu diperlukan untuk kasih; penyalahgunaan kebebasan memilih inilah penyebab kejahatan. Sekali lagi, memang masih banyak pertanyaan. Allah mengizinkan kejahatan (untuk sementara waktu), walaupun sepenuhnya membencinya, karena meniadakan peluang kejahatan berarti meniadakan kasih, dan menghancurkan kejahatan sebelum waktunya akan merusak kepercayaan yang diperlukan untuk kasih.
"Bumi gelap oleh salah pengertian akan Allah. Supaya bayang-bayang yang gelap itu dapat diterangi, supaya dunia dapat dibawa kembali ke pangkuan Allah, kuasa penipuan lblis harus dihancurkan. Ini tidak dapat dilakukan dengan kekerasan. Penggunaan kekerasan bertentangan dengan asas-asas pemerintahan Allah; Ia menghendaki hanya pelayanan kasih; dan kasih tidak dapat dipaksakan; kasih tidak dapat diperoleh dengan kekerasan atau kekuasaan. Hanyalah kasih yang dapat menggugah kasih itu. Mengenal Allah berarti mengasihi-Nya; tabiat-Nya harus dinyatakan sebagai kebalikan dari tabiat iblis"- Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 16.
Tanpa kebebasan memilih, tidak akan ada kasih, dan jika Allah adalah kasih, maka tampak jelas bahwa bukanlah pilihan bagi Allah untuk meniadakan kasih atau kebebasan yang diperlukan agar kasih bisa ada. Seseorang juga bisa berasumsi bahwa jika kita mengetahui akhir dari awal, seperti halnya Allah, kita tidak ingin Dia menghilangkan kebebasan kita. Lagi pula, siapa yang mau hidup di alam semesta tanpa kasih?
Bahkan bilamana kita tidak dapat melihat menembusi kegelapan, Allah dapat melihat akhir dari awal. Dia juga dapat melihat kebahagiaan abadi yang dijanjikan kepada semua orang yang beriman kepada Yesus. Menurut Roma 8: 18, "penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." Apakah kita mempunyai iman dan kepercayaan untuk memercayai janji yang menakjubkan ini?
Begitu sakralnya, begitu mendasarnya kasih, dan kebebasan yang melekat dalam kasih, sehingga gantinya meniadakannya bagi kita, Yesus tahu hal itu akan membawa Dia ke kayu salib, di mana Dia akan sangat menderita. Namun, meskipun Ia tahu betapa besar akibatnya bagi-Nya, Ia tetap memberikan kebebasan ini kepada kita. Mengapa pemikiran ini sangat penting untuk selalu kita ingat?