Berapa Lama, Ya Tuhan?
Masalah kejahatan disuarakan tidak hanya dalam konteks masa kini namun juga dalam Kitab Suci sendiri.
Ayat-ayat ini menimbulkan banyak pertanyaan yang masih ada pada kita saat ini. Mengapa orang jahat tampak makmur dan orang yang berbuat jahat mendapatkan keuntungan dari kejahatannya, meski tidak selalu, namun cukup sering? Mengapa orang benar begitu menderita? Di manakah Allah ketika kejahatan terjadi? Mengapa Allah terkadang tampak jauh, bahkan tersembunyi dari kita?
Apa pun yang kita katakan mengenai pertanyaan-pertanyaan ini dan masalah kejahatan secara umum, kita harus memastikan untuk tidak meremehkan kejahatan. Kita tidak boleh mencoba menyelesaikan masalah ini dengan meremehkan jenis atau jumlah kejahatan di dunia. Kejahatan itu sangat buruk- dan Allah lebih membencinya daripada kita. Oleh karena itu, kita boleh ikut serta dalam seruan yang bergema di seluruh Kitab Suci sebagai tanggapan terhadap banyaknya kejahatan dan ketidakadilan di dunia: "Berapa lama lagi, ya Tuhan?"
Di kayu salib, Yesus sendiri menyerukan pertanyaan: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" ( Mat. 27: 46). Di sini khususnya kita melihat bahwa Allah sendiri tersakiti oleh kejahatan, suatu kebenaran menakjubkan yang secara kuat disoroti dalam penderitaan dan kematian Kristus di kayu salib, di mana segenap kejahatan dunia menimpa Dia.
Tetapi di sini pun masih ada harapan. Apa yang Kristus lakukan di kayu salib mengalahkan sumber kejahatan, yakni lblis, dan pada akhirnya akan menghapuskan kejahatan secara menyeluruh. Yesus mengutip kata-kata tersebut dari Mazmur 22: 2, 3 dan bagian selanjutnya dari Mazmur itu berakhir dengan kemenangan.