Penganut Teisme yang Skeptis.
Allah berfirman dalam Yesaya 55: 8, 9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."
Rancangan Allah jauh lebih tinggi dari rancangan kita. Kita bahkan tidak dapat membayangkan betapa rumitnya rencana Allah bagi sejarah. Mengingat hal ini, mengapa kita harus berharap untuk mengetahui apa alasan Allah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dalam berbagai situasi?
Salah satu cara untuk memahami masalah kejahatan, berdasarkan kesadaran betapa sedikitnya yang kita ketahui, disebut "teisme skeptis." Penganut teisme yang skeptis adalah orang yang percaya bahwa Allah mempunyai alasan yang baik untuk apa yang telah dilakukan-Nya, namun karena pengetahuan kita yang terbatas, maka kita tidak perlu berharap untuk mengetahui apa alasan-alasan tersebut. Penganut teisme yang skeptis itu bersikap skeptis mengenai kemampuan manusia untuk menyadari atau memahami sepenuhnya alasan-alasan Allah sehubungan dengan kejahatan di dunia ini. Misalnya, hanya karena seseorang tidak dapat melihat kuman yang beterbangan di udara di sekitar kita, bukan berarti tidak ada kuman yang beterbangan di udara di sekitar kita. Fakta bahwa seseorang tidak mengetahui apa alasan Allah tentunya tidak berarti bahwa Allah tidak mempunyai alasan yang baik.
Pemazmur sangat terganggu dengan kejahatan yang ada di dunia. Dia melihat sekelilingnya dan melihat orang jahat menjadi makmur. Segalanya tampak tidak adil. Dia tidak punya jawaban akan hal itu. Dia bertanya-tanya apakah layak untuk percaya dan melayani Allah. Sampai, dia melihat ke dalam tempat suci.
Bait Suci menyediakan sebagian kunci terhadap masalah kejahatan- yaitu, mengakui adanya Hakim yang adil yang akan memberikan keadilan dan penghakiman pada waktu-Nya sendiri.