Konteks Sastra
Sebuah anekdot pengkhotbah populer menceritakan tentang seorang pria yang menghadapi masalah serius dan ingin mengetahui kehendak Allah baginya. Ia membuka Alkitabnya dan menunjuk jarinya secara acak ke Matius 27: 5, yang berbunyi, "Maka … Yudas] pergi dari situ dan menggantung diri." Terkejut oleh ayat tersebut, ia mengulangi prosedur yang sama, mencoba menemukan pekabaran yang lebih membangkitkan semangat, hanya untuk jarinya berhenti di [Lukas 10: 37</span>: "Kata Yesus kepadanya: 'Pergilah, dan perbuatlah demikian!" Keduanya adalah ayat Kitab Suci yang benar, tetapi perlu dipahami sesuai konteksnya.
Memang, banyak penyimpangan pekabaran Alkitab berasal dari praktik umum mengisolasi bagian-bagian dari konteks sastranya. Pendekatan membuka Kitab Suci ini untuk segala macam penafsiran buatan.
Beberapa orang mendistorsi pekabaran Alkitab dengan tulus karena kurangnya pengetahuan mereka sendiri. Namun yang lain melakukannya dengan sengaja, seperti yang dilakukan Iblis pada dua kesempatan yang disebutkan dalam tulisan suci di atas. Terlepas dari motivasinya, hasilnya selalu merugikan.
Di Taman Eden ( Kej. 3: 1-5; bandingkan dengan Why. 12: 9), Iblis menampakkan diri kepada Hawa sebagai ular yang menarik dan ingin tahu yang mampu berbicara bahasa manusia. Memutarbalikkan firman Allah dari konteks aslinya, Iblis pertama-tama menggeneralisasikannya dan kemudian menawarkan penafsirannya yang menipu.
Ketika Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun ( Mat. 4: 1-11; Luk. 4: 1-13), "Setan <span class="bible-ref-badge tag is-info is-light font-semibold my-1" data-bible-ref="Iblis] datang sebagai malaikat terang di padang gurun pencobaan untuk menipu Kristus" —Ellen G. White, dalam The Advent Review and Sabbath Herald, 18 Desember 1888.
Dalam dialognya dengan Kristus, Iblis salah mengutip [Mazmur 91: 11, 12" data-sspm="Ps9111-Ps9112" style="display: inline-flex; align-items: center; gap: 0.25rem; cursor: pointer;"><i class="bx bx-book-open"></i> Iblis] datang sebagai malaikat terang di padang gurun pencobaan untuk menipu Kristus" —Ellen G. White, dalam The Advent Review and Sabbath Herald, 18 Desember 1888.
Dalam dialognya dengan Kristus, Iblis salah mengutip [Mazmur 91: 11, 12</span> untuk menyiratkan bahwa Allah akan melindungi bahkan mereka yang menempatkan diri mereka secara sengaja pada situasi berbahaya.
Taman Eden dan pengalaman pencobaan di padang gurun menegaskan keberadaan pertentangan besar, yang mencakup penafsiran Firman Allah, baik yang diucapkan maupun yang tertulis. Hal-hal ini seharusnya membantu kita mengenal pentingnya menjaga pemahaman kita tentang bagian-bagian Alkitab agar tetap setia pada konteksnya.