Alkitab, Penafsir bagi Dirinya Sendiri
Penafsiran kita terhadap Kitab Suci sebagian besar dipengaruhi oleh asumsi-asumsi kita. Mereka yang menganggap Alkitab hanya sebagai kumpulan dokumen kuno tidak dapat melihat kesatuan apa pun di antara berbagai kitabnya. Namun, dengan mempertimbangkan prinsip dasar bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat" ( 2 Tim. 3: 16), kita dapat menghargai kesatuan yang mendasarinya dan membiarkan Alkitab menjadi penafsir bagi dirinya sendiri.
Pembacaan sepintas terhadap Matius 5: 17-48 dapat memberikan kesan bahwa Yesus sedang mengganti ajaran Perjanjian Lama dengan ajaran baru milik-Nya sendiri. Namun, pembacaan yang lebih cermat memperjelas bahwa Yesus sedang menyingkapkan dimensi rohani yang dalam dari Perjanjian Lama. Dalam pengertian ini, Ia sedang menggenapi janji Yeremia 31: 31-33 bahwa di bawah perjanjian baru hukum Allah akan ditaruh dalam batin dan dituliskan dalam hati umat-Nya (bandingkan dengan Ibr. 8: 8-10; Ibr: 10: 16).
Terkadang penafsiran suatu bagian diberikan dalam kitab yang sama di mana bagian itu muncul. Sebagai contoh, dalam Daniel 2, kita menemukan deskripsi mimpi misterius Raja Nebukadnezar ( Dan. 2: 31-35) diikuti oleh penafsiran mimpi tersebut ( Dan. 2: 36-45). Demikian pula, dalam Matius 13 kita memiliki perumpamaan penabur ( Mat. 13: 1-9), dan kemudian penafsirannya ( Mat. 13: 18-23).
Terkadang penafsiran suatu pekabaran diberikan oleh nabi di kemudian hari. Misalnya, 2 Tawarikh 36: 22, 23 menegaskan penggenapan nubuatan 70 tahun, sebagaimana diprediksi dalam Yeremia 25: 11, 12 dan Yeremia 29: 10. Namun, banyak tipe Perjanjian Lama digenapi di dalam Kristus, dan banyak bagian Perjanjian Lama ditafsirkan dalam Perjanjian Baru.
"Perjanjian Lama adalah Injil dalam bentuk kiasan dan simbol. Perjanjian Baru adalah substansinya. Yang satu sama pentingnya dengan yang lain" -Ellen G. White, Selected Messages, jld. 2, hlm. 104.
Memang, Perjanjian Baru adalah penafsir yang diilhami dari Perjanjian Lama.