Untuk Peringatan Kita
Semua kisah dalam Perjanjian Lama ini, betapapun kotor dan menyedihkannya, diberikan untuk alasan yang baik: idealnya, agar kita dapat belajar pelajaran dari kisah-kisah itu tentang apa yang terjadi ketika kita memberontak melawan Allah.
Dalam ayat-ayat ini Paulus menarik garis lurus yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menghubungkan Israel kuno dan gereja, yang mana kita yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat sekarang menjadi bagiannya ( Gal. 6: 14-16). Paulus memperjelas bahwa catatan masa lalu tentang pengalaman manusia dengan Allah-baik atau buruk-tidak boleh diabaikan atau dikesampingkan.
Faktanya, Allah menganggapnya begitu penting sehingga Ia menyusunnya sebagai contoh "supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka nenek moyang kita] perbuat" ([1 Kor. 10: 6</span>). Dengan kata lain, masa lalu sering kali merupakan prolog bagi masa depan. Masa lalu sering kali menetapkan konteks bagi apa yang sedang terjadi saat ini dan apa yang akan terjadi di masa depan.
Efektifnya, Allah mengatakan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan generasi masa lalu, jika saja kita mengindahkan peringatan Kitab Suci dan berbagai pekabaran nubuatan yang dikirim oleh-Nya kepada kita melalui nabi-nabi-Nya. Jika Kita mendengarkan, belajar, dan taat, hidup kita akan diteguhkan, dan kita akan berhasil ( 2 Taw. 20: 20).
Bagi sebagian orang, bahkan kemakmuran rohani telah didefinisikan dengan memiliki rumah yang bagus, mobil, pakaian, dan harta benda lainnya. Sementara Allah berjanji untuk mengurus kebutuhan kita, Ia juga menginginkan jiwa kita menjadi makmur, sama seperti kita makmur dalam hal-hal lain ( 3 Yoh. 2). Namun, kepenuhan rohani yang sejati dan abadi dalam kehidupan Kristen menuntut ketaatan pada berbagai pekabaran Allah.
Allah tidak membuang-buang kata. Ketika Ia berbicara, Firman-Nya kekal. Kuasa dan khasiatnya tidak pernah berakhir ( Yes. 40: 8). Firman itu diberikan untuk peringatan kita, "yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba" ( 1 Kor. 10: 11). Jika itu benar pada masa itu, betapa terlebih lagi kata-kata itu berlaku bagi kita saat ini?