Membinasakan Pekabaran: Bagian 1
Yeremia adalah suara kenabian Allah bagi bangsa Yehuda pada masa malapetaka yang akan datang. Selama bertahun-tahun Allah melalui Yeremia telah memperingatkan Yehuda tentang ketidaksenangan-Nya terhadap mereka, dan bahwa Babel akan menaklukkan mereka serta membawa mereka sebagai tawanan ke dalam pembuangan ( Yer: 6: 8-19; Yer. 26). Tuhan sedang berusaha untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka harus taat.
Dosa-dosa Yehuda banyak, terbuka, dan tidak berubah. Penyembahan berhaIa, pengorbanan anak, perzinahan, dan tirani adalah norma pada masa Yeremia, namun peringatan dan seruan nabi tidak diindahkan. Saat pelayanan kenabian Yeremia mendekati akhirnya, seruan Allah kepada anak-anak-Nya yang murtad menjadi lebih intens, namun upaya-Nya selalu tetap bersifat menebus. Dalam Yeremia 32, misalnya, Allah menyuruh Yeremia untuk membeli sebidang tanah dan memegang surat pembeliannya, "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam … : Rumah, ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini!" ( Yer:32: 15).
Kasihilah yang menggerakkan Allah untuk menyuruh Yeremia menulis semacam seruan terakhir untuk pertobatan dan reformasi. Tanggapan Yoyakim terhadap pekabaran ini adalah penghinaan terhadap Allah, pekabaran-Nya, dan utusan-Nya.
Terkadang ada kecenderungan untuk percaya bahwa jika kita mengabaikan atau menghancurkan berbagai pekabaran Allah atau utusan-utusan-Nya.pekabaran itu sendiri akan lenyap. Ketidaksediaan kita untuk mengindahkan Firman nubuat Allah tidak menghapus pekabaran yang Allah miliki bagi kita. Penghinaan kita hanya memperparah kerugian yang akan menimpa kita dan keluarga kita karena ketidaktahuan atau pemberontakan kita yang disengaja.
Nubuat Yeremia tentang akhir Raja Yoyakim mengandung peringatan serius bagi setiap manusia ( Yer: 36: 30, 31): kita mengabaikan peringatan Allah kepada kita dengan menanggung risiko kita sendiri, karena kita akan menuai konsekuensi dari dosa dan kejahatan kita.