Kemunafikan
Pernahkah Anda melihat hal-hal yang telah dilakukan orang lain di masa lalu dan berpikir dalam hati, Jika itu saya, saya tidak akan pernah melakukan apa yang orang-orang itu lakukan!
Namun, jika kita jujur pada diri sendiri, kita mungkin tidak melakukan hal yang persis sama dengan yang dilakukan orang lain, tetapi kita sering berperilaku dengan cara yang sama, mengulangi kesalahan yang sama sementara, mungkin, membutakan diri kita sendiri dengan sengaja terhadap apa yang sebenarnya kita lakukan.
Inilah prinsip yang Yesus sendiri bahas ketika Ia berkata: "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" ( Mat. 7: 5).
Ada rasa dalam ayat-ayat ini bahwa Yesus membenci perilaku orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka diperburuk oleh penolakan yang gigih untuk berubah. Yesus sudah muak dengan agama orang-orang Farisi. Ia sudah selesai dengan para elit rohani berjubah panjang yang tidak lebih dari kuburan yang dilabur putih yang penuh dengan tulang-belulang orang mati ( Mat. 23: 27, 28). Mereka tidak mau mengakui atau meninggalkan dosa-dosa mereka, bahkan ketika dosa-dosa itu ditunjukkan kepada mereka, bahkan ketika Yesus berulang kali memberi mereka kesempatan untuk bertobat dan diselamatkan.
Dalam interaksi-Nya dengan orang-orang ini, tidak heran Yesus menyebut mereka "Orang-orang munafik"! Kalimat yang sering muncul adalah: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik!" (lihat Mat. 23: 14, 15, 23, 25, 27).
Kehidupan mereka, memang, ditandai dengan mengatakan satu hal sambil melakukan hal lain. Demikianlah pendekatan mereka terhadap para nabi. Mereka berpikir, misalnya, bahwa dengan memperindah makam para nabi, mereka menghormati iman; tetapi dalam hal-hal penting, seperti bertobat pada perkataan para nabi, mereka menolak untuk melakukannya. Sebaliknya, mereka ingin dikaitkan dengan kekuatan dan kesedihan para nabi, tetapi bukan dengan isi pekabaran mereka.
Dalam memoles makam dan kuburan hamba-hamba Allah, mereka beralasan pada diri mereka sendiri bahwa mereka tidak akan pernah menumpahkan darah utusan-utusan Allah. Namun, pada saat itu juga mereka sedang merencanakan pembunuhan seseorang yang jauh lebih besar daripada seorang nabi–Mesias itu sendiri.