Kemarahan pada Utusan Allah
Musa, pemimpin pilihan Allah, mengetahui sukacita dan kepedihan dalam memimpin sekumpulan orang banyak melalui padang gurun untuk mencari Tanah Perjanjian.
Pembacaan yang cermat terhadap ayat-ayat ini mengungkapkan bahwa anak-anak Israel marah kepada Allah karena mereka tidak memercayai-Nya. Musa dan Harun, wakil manusia dari Ketuhanan Allah yang mutlak, adalah sasaran empuk bagi kemarahan bangsa itu. Kebutuhan akan keamanan fisik dan mental adalah motivasi inti yang dimiliki semua manusia. Ketika salah satunya terancam, atau kita menganggap sesuatu sebagai ancaman terhadap kesejahteraan fisik atau mental kita, kita bisa menjadi marah atau bahkan irasional.
Orang Israel memendam ketakutan yang sah tentang tantangan-tantangan yang ada di depan dalam memiliki Tanah Perjanjian, "tetapi apabila manusia menyerahkan hatinya kepada sikap tidak percaya mereka menempatkan diri di bawah pengendalian Setan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sampai berapa jauh Setan akan memimpin mereka" (Ellen G. White, Sejarah Para Nabi (1999), jld. 1, hlm. 465).
Musa menghadapi tantangan kepemimpinan yang hampir tak teratasi pada saat ini. Ketakutan orang-orang segera berkembang menjadi kemarahan terhadap Harun dan Musa dan menjadi pemberontakan terbuka terhadap Allah. Ketika orang-orang mencari pemimpin baru untuk menggantikan nabi/pemimpin yang dipilih oleh Allah ( Ul. 34: 10-12; Bil. 14: 4), Yosua dan Kaleb mengoyakkan pakaian mereka dan memohon kepada orang-orang itu untuk percaya kepada Allah meskipun mereka takut:
"Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu…" ( Bil. 14: 8, 9).