Otoritas Alkitabiah
Alkitab adalah produk dari wahyu kenabian yang diilhami dari Allah. Alkitab menjawab pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan dan merupakan sarana unik Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada umat manusia. Melalui Kitab Suci, kita mempelajari makna keberadaan manusia, karakter dan kehendak Allah, serta tujuan Allah bagi hidup kita.
Alkitab adalah standar emas kebenaran, otoritas yang dengannya kita harus membuat pilihan hidup. Alkitab adalah fondasi pandangan dunia orang Kristen dan dasar dari semua kebenaran yang diwahyukan. Alkitab adalah aturan iman dan praktik orang Kristen.
Kita dapat menerima atau menolak Firman Allah, dan kita tidak perlu bertindak ekstrem dengan membakar Alkitab kita, seperti yang dilakukan Raja Yoyakim (lihat Yer. 36: 22–27) dalam menolaknya. Mengabaikannya, bahkan ketika mengaku memercayainya, bisa sama bermasalahnya. Ketika kita menemukan dan menerima Firman Allah, kita dapat, seperti Raja Yosia, diubahkan dan memimpin orang lain kepada Allah (lihat 2 Raj. 22: 10–13).
Saat ini orang sering mendekati Kitab Suci dengan mencari kesalahannya atau mencemoohnya. Beberapa melihat Alkitab tidak sejalan dengan adat istiadat kontemporer (biasanya memang demikian, dan seharusnya demikian). Banyak yang mencemoohnya karena bertentangan dengan tren "ilmiah" atau budaya. Dalam Kekristenan, Alkitab sering digunakan hanya untuk mendukung posisi teologis tertentu daripada sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani pribadi dan reformasi. Orang lain menafsirkan Alkitab sedemikian rupa sehingga otoritas historis atau praktisnya atas kehidupan kita sehari-hari disangkal. Salah satu cara termudah, dan mungkin paling umum, untuk menolak otoritas alkitabiah adalah dengan mengabaikan Alkitab dan tidak meluangkan waktu untuk membaca dan kemudian menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan kita.
Pada zaman kuno, bahan tulisan langka dan mahal. Lebih jauh lagi, banyak orang tidak dapat membaca, jadi Firman Allah yang diucapkan melalui nabi-nabi-Nya sangatlah penting. Di bawah kuasa Roh Kudus, Firman Allah, baik yang diucapkan maupun yang tertulis, dapat menembus hati untuk mengungkapkan dosa dan membawa reformasi serta pemulihan. Firman itu memanggil kita pada pertobatan dan ketaatan ( Kis. 5: 29; lihat juga Ibr. 4: 12). Dan itulah sering kali alasan mengapa banyak orang yang seharusnya tahu lebih baik menolaknya. Mereka tidak menyukai tuntutannya atas hidup mereka.