Otoritas Yesus
Ketika Yesus sedang mengajar, para imam datang kepada-Nya dan menuntut untuk mengetahui siapa yang telah memberi-Nya otoritas untuk melakukan pelayanan ini. Bagaimanapun, Yesus tidak lulus dari sekolah lokal mana pun, juga tidak menerima pelatihan di sekolah tradisional para rabi. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka, Yesus menunjukkan jalan menuju jawabannya, dengan bertanya kepada para penanya-Nya tentang otoritas tak terbantahkan yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis. Dengan menolak untuk menjawab, mereka meniadakan kuasa Allah yang memahkotai pelayanan Yohanes dan menolak otoritas Yesus yang, seperti Yohanes, juga diutus oleh Allah.
Segala otoritas adalah milik Yesus sebagai Pencipta ( Yoh. 1: 3) dan Juruselamat manusia ( Rm. 3: 24). Ia adalah Firman Allah. Otoritas Ilahi yang dimiliki oleh Yesus selama kehidupan dan pelayanan duniawi-Nya tidak dapat ditiru atau dihasilkan sendiri oleh siapa pun. Pengajaran Yesus mengherankan para pendengar karena Ia mengajar sebagai Orang yang memiliki otoritas ( Mat. 7: 29).
Semua Injil mencatat otoritas kenabian Yesus yang bukan berasal dari dunia ini. Yesus mengampuni dosa ( Mrk. 2: 10, 11), mengusir setan ( Mrk. 3: 15), dan mengetahui apa yang dipikirkan orang ( Yoh. 2: 24, 25). Ia membangkitkan orang mati dan menawarkan hidup yang kekal ( Yoh. 10: 28).
Selama berada di bumi sebagai Penebus kita, Yesus menjalankan otoritas yang diberikan kepada-Nya oleh Allah Bapa ( Yoh. 17: 2), dan Ia bergantung pada serta bekerja sama dengan Bapa ( Yoh. 5: 19) setiap saat, sering kali merujuk kembali pada Kitab Suci, yang, menurut klaim-Nya, bersaksi tentang Dia. Yesus juga memiliki otoritas mutlak dan dapat mendelegasikan otoritas itu kepada murid-murid-Nya ( Mrk. 6: 7). Sebagai Firman Allah, kesaksian-Nya juga datang kepada para nabi yang melalui mereka Ia berbicara ( Why. 19: 10).