Kemenangan dalam Kristus
Hati Paulus gelisah saat menunggu Titus ( 2 Kor. 7: 5, 6). Meskipun gelisah, ia tidak bisa berhenti berbicara tentang Yesus ( 2 Kor. 2: 12). Ia sangat mengasihi Yesus. Pada saat itu, ia belum mengetahui hasil dari suratnya. Ia sangat ingin bertemu Titus dan mendengar tentang reaksi jemaat Korintus.
Pekerjaan Paulus di Troas berhasil, tetapi "ia tidak bisa tinggal lama di sana. 'Tanggung jawab atas semua jemaat,' dan khususnya jemaat di Korintus, membebani hatinya. Ia berharap dapat bertemu Titus di Troas dan mengetahui darinya bagaimana kata-kata nasihat dan teguran yang dikirimkan kepada saudara-saudara di Korintus diterima, tetapi dalam hal ini ia kecewa. 'Aku tidak merasa ketenangan dalam rohku,' tulisnya mengenai pengalaman ini, 'karena aku tidak menemukan Titus, saudaraku.' Oleh karena itu, ia meninggalkan Troas dan menyeberang ke Makedonia, di mana, di Filipi, ia bertemu Timotius"—Ellen G. White, Kisah Para Rasul (1999), hlm. 268.
Dalam ledakan sukacita, Paulus menegaskan bahwa Allah "selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya di dalam Kristus" ( 2 Kor. 2: 14). Sungguh sebuah pernyataan yang luar biasa! Hati yang dipenuhi dengan hadirat Kristus menyebarkan "keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana" ( 2 Kor. 2: 14).
Paulus bersukacita di dalam Kristus karena surat yang menyakitkan itu membuahkan hasil yang ingin ia tuai ( 2 Kor. 7: 5–9). Ini adalah kemenangan besar. Sementara itu, dalam 2 Korintus 2: 17, Paulus menegaskan kembali ketulusannya sebagai rasul Kristus ( 2 Kor. 2: 17, 2 Kor. 1: 12). Menurut perikop ini, yang membedakan hamba Kristus yang setia dari pelayan palsu adalah bahwa pelayan palsu memperdagangkan Injil untuk kepentingan diri sendiri, sedangkan hamba yang setia memberitakan Firman Tuhan dengan segenap hati karena kasih kepada Kristus.