Mengubah Rencana demi Kasih
Kita telah melihat bahwa beberapa orang di Korintus meragukan niat dan kasih Paulus. Hari ini, kita akan melihat satu alasan khusus: perubahan rencana perjalanannya ( 2 Kor. 1: 15–2: 4).
Paulus pernah berada di Korintus sebelumnya. Menurut 1 Korintus 16: 5, 6, ia berencana melewati Makedonia dalam perjalanannya kembali ke Korintus dan, mungkin, tinggal di Korintus selama musim dingin. Dari Korintus, ia akan pergi ke Yudea dengan persembahan yang dikumpulkan di Makedonia untuk orang miskin di Yerusalem. Namun, ia mengubah rencananya karena laporan buruk yang dibawa oleh Timotius dari Korintus ( 1 Kor. 4: 17, 1 Kor. 16: 10, 2 Kor. 1: 1).
Paulus bermaksud untuk langsung pergi dari Efesus ke Korintus dan di sana mengatasi masalah yang dilaporkan oleh Timotius. Rencana perjalanan yang baru adalah Efesus—Korintus—Makedonia—Korintus—Yudea ( 2 Kor. 1: 15, 16). Ia pergi dari Efesus ke Korintus, tetapi kemudian ia kembali ke Efesus. Rencananya berubah. Ia tidak kembali ke Korintus seperti yang direncanakan, setidaknya tidak segera, karena kunjungan terakhirnya tidak berjalan dengan baik. Jadi, ia kembali ke Efesus dan menulis surat kepada mereka. Ia lebih memilih mengirim surat daripada mengambil risiko memperburuk keadaan dengan kunjungan lain ( 2 Kor. 2: 1, 3).
Niat Paulus pada kunjungan terakhir disalahartikan. Beberapa orang di Korintus mengatakan bahwa ia tidak dapat diandalkan dan tidak cukup mengasihi mereka ( 2 Kor. 1: 17). Dalam jawabannya terhadap tuduhan itu, ia mengalihkan pandangan jemaat Korintus kepada Injil Kristus. Ia setia pada niatnya untuk mengunjungi jemaat Korintus pada kesempatan terbaik, sama seperti Allah telah setia dalam memenuhi janji-janji-Nya kepada mereka melalui Kristus ( 2 Kor. 1: 18–22).
"Sebab Kristus, Anak Allah, adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah." ( 2 Kor. 1: 20).
Dengan demikian, jawabannya bukanlah campuran yang membingungkan antara "ya" atau "tidak" yang bergantung pada keadaan, seperti yang mereka katakan, tetapi selalu "ya", sama seperti pekerjaan Allah di dalam Kristus adalah "selalu ya" ( 2 Kor. 1: 19).
Oleh karena itu, alasan Paulus menulis surat kepada jemaat Korintus alih-alih mengunjungi mereka adalah kasihnya yang tulus kepada mereka, bukan sebaliknya ( 2 Kor. 2: 4). Kunjungan lain setelah kunjungan yang mewaikitkan hanya akan membawa lebih banyak penderitaan bagi mereka, bukan sukacita yang ingin ia timbulkan dengan kehadirannya ( 2 Kor. 1: 24, 2 Kor. 2: 3). Betapa mudahnya niat baiknya disalahartikan.