Eden dan Kanaan
Pada saat Penciptaan, Tuhan menempatkan Adam dan Hawa dalam lingkungan yang sempurna yang mewujudkan kelimpahan dan keindahan. Pasangan manusia pertama ini bertemu dengan Pencipta mereka dalam suasana tempat tinggal yang indah yang dapat memenuhi semua kebutuhan fisik mereka. Selain firman Tuhan yang diucapkan, Taman Eden berfungsi sebagai pusat pembelajaran di mana Adam dan Hawa memperoleh wawasan yang signifikan tentang karakter Tuhan dan kehidupan yang Dia maksudkan bagi mereka. Oleh karena itu, ketika mereka memutuskan hubungan saling percaya dengan Pencipta mereka, hubungan mereka dengan Taman Eden pun berubah, dan sebagai tanda putusnya hubungan tersebut, mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka kehilangan wilayah yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan demikian, Taman Eden menjadi simbol kehidupan yang berkelimpahan, dan kita akan menemukan kembali motif-motifnya dalam tema Tanah Perjanjian.
Ketika Abraham memasuki tanah yang ditunjukkan Allah kepadanya, dengan iman, tanah itu menjadi Tanah Perjanjian baginya dan keturunannya. Tanah itu tetap menjadi Tanah Perjanjian selama 400 tahun. Para bapa leluhur tidak benar-benar memiliki tanah itu; tanah itu bukan milik mereka sehingga mereka dapat memberikannya kepada anak-anak mereka sebagai warisan. Sebaliknya, tanah itu adalah milik Allah, sebagaimana Taman Eden adalah milik-Nya. Karena Adam dan Hawa tidak melakukan apa pun yang membuat mereka berhak atas Taman Eden, maka Israel juga tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan tanah itu. Tanah Perjanjian adalah pemberian Allah berdasarkan inisiatif-Nya. Israel tidak memiliki hak yang melekat atau klaim untuk memiliki tanah tersebut ( Ul. 9: 4-6); hanya karena kasih karunia Allahlah mereka dapat memilikinya.
Para bapa leluhur adalah pewaris janji-janji itu hingga janji-janji itu digenapi. Kita, sebagai pengikut Kristus, telah mewarisi janji-janji yang lebih baik lagi ( Ibr. 8: 6) yang akan digenapi jika kita menjadi "peniru-peniru mereka, yang oleh iman dan ketekunannya telah menerima janji-janji itu” ( Ibr. 6: 12, RSV).