Allah yang Menyesal?
Bisakah Allah "menyesal"? Jika ya, apa maksudnya? Kita telah melihat bahwa karakter Allah tidak pernah berubah. Namun, beberapa ayat Kitab Suci menyebut Allah seakan "menyesal" atau "mengalah." Setidaknya bagi manusia, penyesalan mencakup pengakuan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan. Lalu, bagaimanakah mungkin beberapa bagian Kitab Suci menggambarkan Allah sedang "menyesal"?
Di ayat-ayat ini dan di banyak ayat lainnya, Allah digambarkan mengalah dalam penghakiman sebagai respons terhadap pertobatan atau syafaat manusia. Allah berjanji bahwa, jika manusia berbalik dari kejahatannya, Dia akan berpaling dari penghukuman yang dirancang-Nya. Batalnya Allah dari memberikan penghukuman sebagai respons terhadap pertobatan manusia merupakan tema umum di seluruh Kitab Suci.
Ayat-ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Allah "bukanlah manusia yang harus menyesal" ( 1 Sam. 15: 29) dan "Allah bukanlah manusia sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Masakan la berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" ( Bil. 23: 19). Dengan membaca ayat-ayat lainnya, ayat-ayat ini tidak dapat diartikan bahwa Allah tidak "mengalah" sama sekali, namun justru menyampaikan kebenaran bahwa Dia tidak "mengalah" atau "menyesal" seperti cara yang dilakukan manusia. Malahan, Allah selalu menepati janji-janji-Nya, dan meskipun Dia berubah arah, itu sebagai respons terhadap pertobatan manusia, Dia melakukannya senantiasa sesuai dengan kebaikan-Nya dan Firman-Nya. Allah melunak dalam hal penghukuman sebagai respons terhadap pertobatan, justru karena karakter-Nya baik, benar, pengasih, dan murah hati.