Allah Sepenuhnya Baik dan Benar
Allah tidak sekadar mengaku menyukai keadilan dan mengajak manusia untuk mengasihi dan berlaku adil, namun Allah sendiri dengan sempurna dan tak tergoyahkan mencontohkan sifat-sifat tersebut. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah sepenuhnya kudus, setia, benar, dan pengasih. Hanya Allah yang selalu melakukan apa yang penuh kasih, benar, dan adil. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.
Ayat-ayat ini dan banyak ayat lainnya menyatakan bahwa Allah itu adil dan pengasih—"tidak ada kecurangan pada-Nya" (Mzm. 92: 16, bandingkan dengan Mzm. 25: 8; Mzm. 129: 4). Allah "tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi la memberi hukum-Nya; itu tidak pernah ketinggalan pada waktu fajar. Tetapi orang lalim tidak kenal malu!" ( Zef. 3: 5). Perhatikan perbedaan langsung antara karakter Allah dan karakter mereka yang menyukai ketidakadilan.
Allah tahu apa yang terbaik untuk semua orang, menginginkan yang terbaik untuk semua orang, dan terus bekerja untuk memberikan hasil terbaik bagi semua yang terlibat.
Allah dalam Kitab Suci adalah "hakim yang adil" ( Mzm. 7: 12) dan tidak ada kejahatan menumpang pada-Nya ( Mzm. 5: 6). Seperti yang diajarkan 1 Yohanes 1: 5, "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan." Memang benar Allah tidak hanya baik secara sempurna, namun menurut Yakobus 1: 13 "Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat" (bandingkan dengan Hab. 1:13).
Dalam semua ini, kebaikan dan kemuliaan Allah saling terkait erat. Walaupun banyak orang yang mengidolakan kekuasaan, Allah itu mahakuasa, namun Dia menggunakan kuasa-Nya hanya dengan cara yang adil dan penuh kasih. Bukan suatu kebetulan ketika Musa bertanya kepada Allah, "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku," Allah menjawab dengan mengatakan, "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku di depanmu" ( Kel. 33: 18, 19)