Kasih dan Keadilan
Di seluruh Kitab Suci, kasih dan keadilan berjalan beriringan. Kasih sejati membutuhkan keadilan, dan keadilan sejati hanya dapat diatur dan dilaksanakan dengan kasih. Kita tidak terbiasa memikirkan kedua konsep ini secara bersamaan, namun hal ini terjadi karena kasih dan keadilan telah sangat diselewengkan oleh umat manusia.
Ayat-ayat ini secara jelas menyatakan bahwa Allah senang kepada keadilan ( Mzm. 33: 5: Yes. 61:8). Dalam Kitab Suci, gagasan tentang kasih dan keadilan saling terkait erat. Kasih Allah dan kebenaran Allah berjalan seiring, dan Dia sangat menaruh perhatian agar kebenaran dan keadilan ditegakkan di dunia ini.
Maka, ada alasan yang baik mengapa para nabi terus-menerus mengecam segala jenis ketidakadilan, termasuk hukum yang tidak adil, tinibangan yang salah, dan ketidakadilan serta penindasan terhadap orang miskin dan para janda atau siapa pun yang lemah. Meskipun manusia melakukan banyak kejahatan dan ketidakadilan, Allahlah yang senantiasa "menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi" ( Yer. 9: 24). Oleh karena itu, di seluruh Kitab Suci, orang-orang yang setia kepada Allah sangat menantikan penghakiman Ilahi sebagai hal yang sangat baik karena penghakiman ini mendatangkan hukuman bagi para pelaku kejahatan dan penindas, serta memberikan keadilan dan kelepasan bagi para korban ketidakadilan dan penindasan.
Faktanya, kebenaran dan keadilan adalah landasan pemerintahan Allah Pemerintahan moral Allah yang penuh kasih adalah adil dan benar, sangat berbeda dengan pemerintahan korup di dunia ini, yang sering melanggengkan ketidakadilan demi keuntungan pribadi dan kekuasaan pribadi. Di dalam Allah, "kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman" ( Mzm. 85: 11).
Dan Allah memperjelas apa yang Dia harapkan dari kita. "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" ( Mi. 6: 8). Jika ada sesuatu yang harus kita pantulkan dari karakter Allah, maka kasih adalah yang terutama—serta keadilan dan kemurahan yang berasal dari kasih itu—akan menjadi pusat