Suatu Tujuan yang Pantas.
Di bawah payung kemurahan dan pengantaraan Allah, Allah senang bahkan pada sambutan positif terkecil terhadap kasih-Nya. Melalui Dia yang satu-satunya layak untuk dikasihi dan Diri-Nya sendiri yang secara sempurna benar, kita masing-masing dapat diperhitungkan benar dan terhitung di antara orang-orang yang dikasihi Allah yang akan hidup bersama-Nya dalam kasih yang sempurna untuk selama-lamanya. Inilah pengharapan besar penebusan, yang menyangkut pekerjaan Kristus bagi kita di surga.
Namun Anda mungkin bertanya-tanya, apakah ini termasuk saya? Bagaimanakah jika saya tidak cukup baik? Bagaimanakah jika saya takut bahwa saya tidak mempunyai cukup iman?
Murid-murid tidak dapat mengusir setan; semua harapan sepertinya hilang. Namun Yesus datang dan berkata kepada sang ayah, "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya" ( Mrk. 9: 23). Dan sang ayah sambil menangis menjawab, "Tuhan, aku percaya; tolonglah aku yang tidak percaya ini!" ( Mrk. 9: 24).
Perhatikan, Yesus tidak berkata kepada orang itu, "Kembalilah kepadaku ketika kamu sudah lebih beriman. "Sebaliknya seruannya, "Tolonglah aku yang tidak percaya ini" itu sudah cukup.
Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" ( Ibr. 11: 6), akan tetapi Yesus menerima iman yang terkecil sekalipun dan, dengan iman (melalui pengantaraan Kristus), kita dapat menyenangkan Dia. Melalui iman dan karena usaha Kristus untuk kepentingan kita, kita dapat menyambut dengan cara yang menyenangkan Allah, serupa dengan perasaan senang seorang ayah manusia ketika seorang anak memberinya hadiah yang sebenarnya tidak berharga.
Oleh karena itu, kita harus mengikuti nasihat Paulus agar "berkenan kepada Allah" itu menjadi tujuan kita ( 2 Kor. 5: 9, 10; bandingkan dengan Kol. 1: 10; 1 Tes. 4: 1; Ibr. 11: 5). Dan kita harus memohon kepada Allah untuk mengubah kepentingan kita agar mencakup kepentingan terbaik bagi orang-orang yang kita kasihi, dan memperluas kasih kita sehingga menjangkau orang lain. "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus!" ( Rm. 12: 10-13).