Menyenangkan Allah?
Bagaimana mungkin Allah semesta alam gembira hanya kepada manusia, gumpalan protoplasma yang hidup sekejap di sebuah planet kecil di tengah alam semesta yang mungkin tak terbatas? Bagaimana mungkin manusia bisa begitu berarti bagi Yang Maha Tinggi, yang adalah mahakuasa dan tidak membutuhkan apa pun? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat diurai menjadi dua aspek. Pertama, bagaimanakah Allah sendiri bisa bergembira? Kedua, bagaimanakah manusia dapat membuat Dia gembira, khususnya mengingat keadaan dosa kita? Aspek pertama dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah topik untuk hari ini dan aspek kedua untuk besok.
Seperti yang telah kita lihat sebagian kemarin, Allah bisa disenangkan oleh manusia karena Allah mengasihi manusia dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik mereka, seperti halnya kepada siapa pun yang mengasihi dan peduli terhadap orang lain.
Sebaliknya, Allah dibuat tidak senang oleh umat-Nya ketika mereka berbuat jahat. Memang benar, Amsal 15: 8, 9 mengajarkan bahwa, "korban" dan "jalan" orang fasik adalah "kekejian bagi TUHAN", "doa orang jujur dikenan-Nya" dan "orang yang mengejar kebenaran, dikasihi-Nya." Pasal ini tidak hanya menunjukkan bahwa Allah tidak senang dengan kejahatan, tetapi Dia juga menyukai kebaikan. Hal ini juga menempatkan kegembiraan dan kasih Ilahi secara paralel satu sama lain, menunjukkan hubungan yang mendalam antara kasih Allah dan kegembiraan-Nya, yang terlihat di seluruh Kitab Suci.
Menurut Mazmur 146: 8, "TUHAN mengasihi orang-orang benar." Dalam 2 Korintus 9: 7 menambahkan, "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Pertama-tama, perhatikan apa yang ayat-ayat ini tidak katakan. Ayat-ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah hanya mengasihi orang-orang benar atau Allah hanya mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Allah mengasihi semua orang. Namun, agar ayat-ayat ini bisa menyampaikan segala sesuatu secara menyeluruh, maka dalam arti khusus ayat-ayat ini pasti berarti bahwa Allah mengasihi orang yang "benar" dan "yang memberi dengan sukacita". Apa yang kita lihat dalam Amsal 15: 8, 9 memberi petunjuk: Allah mengasihi mereka dan orang lain dalam arti bergembira bersama mereka.