Hukum dan Kasih Karunia
Sebagaimana telah kita lihat, hukum dan kasih karunia tidak bertentangan satu sama lain. Sebaliknya, keduanya menjalankan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kasih dan keadilan Allah. Perbedaan yang tajam antara hukum dan kasih karunia akan membingungkan bangsa Israel kuno, yang melihat pemberian hukum oleh Allah itu sendiri sebagai sebuah pertunjukan besar dari kasih karunia Allah. Meskipun "allah-allah" bangsa-bangsa di sekitarnya berubah-ubah dan sama sekali tidak dapat diprediksi, membuat manusia tidak tahu apa yang diinginkan oleh "allah-allah" itu dan apa yang menyenangkan mereka, Allah dalam Kitab Suci dengan jelas memberi petunjuk kepada umat-Nya tentang apa yang menyenangkan-Nya. Dan apa yang menyenangkan-Nya adalah demi kebaikan seluruh umat-Nya, baik secara individu maupun bersama-sama.
Namun, hukum tidak bisa menyelamatkan kita dari dosa atau mengubah hati manusia. Karena keberdosaan bawaan kita, kita memerlukan transplantasi hati rohani.
Sepuluh Perintah Allah dituliskan oleh Allah sendiri pada loh-loh batu ( Kel. 31: 18), namun hukum itu juga ditulis dalam hati umat Allah ( Mzm. 37: 30, 31). Idealnya, hukum kasih Allah tidak bersifat eksternal pada diri kita, melainkan internal pada karakter kita. Hanya Allah yang dapat menuliskan hukum-Nya di dalam hati manusia, dan Dia berjanji untuk melakukannya bagi umat perjanjian-Nya (lihat Ibr. 8: 10).
Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dengan menaati hukum. Sebaliknya, karena kasih karunia kita diselamatkan melalui iman, bukan dari diri kita sendiri, tetapi sebagai pemberian Allah ( Ef 2: 8). Kita tidak menaati hukum Taurat supaya diselamatkan; kita menaati hukum karena kita sudah diselamatkan. Kita tidak menaati hukum agar kita dikasihi tetapi karena kita sudah dikasihi, dan karena itu kita rindu untuk mengasihi Allah dan sesama (lihat Yoh. 14: 15).
Pada saat yang sama, hukum Taurat menunjukkan kepada kita dosa kita ( Yak.1: 22- 25; Rm. 3: 20; Rm. 7: 7), menunjukkan kepada kita kebutuhan kita akan seorang Penebus ( Gal. 3: 22- 24), membimbing kita dalam cara hidup yang terbaik, dan menyingkapkan karakter kasih Allah.