Hukum Taurat Itu Kudus, Benar, dan Baik
Kasih adalah landasan hukum Allah. Ketika Allah menegakkan hukum, Dia menegakkan kasih. Inilah sebabnya mengapa Yesus mati untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, agar Dia dapat menegakkan hukum dan pada saat yang sama memberikan kasih karunia kepada kita. Dengan demikian, Dia bisa menjadi adil sekaligus membenarkan orang-orang yang percaya ( Rm. 3: 25, 26). Sungguh suatu ekspresi kasih! Oleh karena itu, hukum bukannya menjadi tidak sah melalui proses penebusan; malahan semakin dikukuhkan.
Pada saat beberapa orang percaya bahwa kasih karunia dan penebusan membatalkan hukum Taurat, Paulus dengan jelas menyatakan bahwa kita tidak boleh terus-menerus berbuat dosa agar kasih karunia bertambah. Sebaliknya, mereka yang berada di dalam Kristus karena iman telah "dibaptis dalam kematian-Nya" dan karena itu menganggap diri mereka mati terhadap dosa dan hidup bagi Kristus.
Hukum Allah bukanlah dosa, namun hukum tersebut (antara lain) membuat dosa dan keberdosaan kita menjadi jelas bagi kita. Itulah sebabnya, ya, "hukum Taurat itu kudus, dan perintah itu juga kudus, benar dan baik" ( Rm. 7: 12). Tidak ada yang lain selain hukum itu yang mengungkapkan kebutuhan kita yang besar akan keselamatan, akan penebusan--keselamatan dan penebusan yang hanya diperoleh melalui Kristus. Oleh karena itu, kami tidak "membatalkan hukum Taurat karena iman" tetapi "sebaliknya, kami meneguhkannya" ( Rm. 3: 31).
Kristus datang bukan untuk menghapuskan hukum tetapi untuk menggenapi semua yang dijanjikan dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Oleh karena itu, Dia menekankan bahwa, "selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat" ( Mat. 5: 18).
Hukum Allah itu sendiri melambangkan kekudusan Allah-karakter kasih, keadilan, kebaikan, dan kebenaran-Nya yang sempurna ( Im. 19: 2; Mzm. 19: 8,9; Mzm. 119: 142, 172). Dalam hal ini, penting bahwa, menurut Keluaran 31: 18, Allah sendiri yang menuliskan Sepuluh Perintah Allah pada loh batu. Tertulis di atas batu, hukum-hukum ini merupakan kesaksian akan karakter Allah yang tidak berubah dan pemerintahan moral-Nya, yang didasarkan pada kasih- sebuah tema sentral dari pertentangan besar ini.