Hukum Kasih
Hukum Allah tidak terdiri dari prinsip-prinsip abstrak; sebaliknya, hukum Allah adalah ekspresi hubungan. Hal ini dapat dilihat secara jelas dalam Sepuluh Perintah Allah. Prinsip-prinsip dasar dari Sepuluh Perintah Allah sudah ada di Taman Eden, prinsip-prinsip kasih yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia dan antara sesama manusia itu sendiri.
Ketika Sepuluh Perintah Allah dituliskan di atas batu dalam Keluaran 20, perintah itu diberikan kepada Israel dalam konteks hubungan perjanjian. Perintah-perintah tersebut ditulis setelah Allah melepaskan orang-orang dari Mesir, dan perintah-perintah tersebut didasarkan pada kasih Allah dan janji-janji-Nya kepada bangsa itu (lihat Kel. 6: 7, 8 dan Im. 26: 12). Kita dapat melihat dalam dua bagian dari Sepuluh Perintah Allah yang ditujukan untuk berkembangnya hubungan manusia dengan Allah dan hubungan satu sama lain.
Empat perintah pertama mengatur hubungan manusia dengan Allah, dan enam perintah terakhir mengatur hubungan antar sesama manusia. Hubungan kita baik dengan Allah maupun dengan sesama harus diatur oleh prinsip-prinsip hukum Allah.
Kedua bagian hukum ini berhubungan langsung dengan apa yang Yesus sebut sebagai dua perintah terbesar-"Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu" ( Mat. 22: 37 bandingkan dengan Ul. 6: 5) dan "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" ( Mat. 22: 39; bandingkan dengan Im. 19: 18).
Empat perintah pertama adalah bagaimana kita harusnya mengasihi Allah dengan segenap keberadaan kita, dan enam perintah terakhir adalah bagaimana kita harusnya mengasihi satu sama lain seperti diri kita sendiri. Yesus memperjelas bahwa kedua perintah kasih yang besar ini berkaitan erat dengan hukum. "Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" ( Mat. 22: 40).
Jadi, keseluruhan hukum Allah didasarkan pada kasih Allah. Kasih Allah dan hukum Allah tidak dapat dipisahkan. Kita sering mendengar orang berkata, Kita tidak perlu menaati hukum, kita hanya perlu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Mengapa gagasan itu tidak masuk akal?